SMULE, Aplikasi Karaoke Kekinian Dengan Ragam Dinamika

  • Bagikan

[Sebuah Catatan Ringan dari Seorang Pengguna]

fokusnusatenggara.com-Ada pepatah klasik kuno yang mengatakan,  “ Tempora Mutantur Et Nos Mutamur In Illis” yang dalam bahasa indonesia bisa diartikan “ Waktu Berubah dan Kita Ikut Berubah Didalamnya”. Artinya apa? Bahwa era kemajuan dunia digital saat ini semakin pesat. Dalam hitungan detik semua bisa berubah dengan inovasi teknologi baru. Posisi kita sebagai objek dari manfaat teknologi ini dipaksa untuk ikut berubah di dalamnya.

Bahkan terlalu laju perkembangan dunia digital, kita bisa melakukan apa saja dengan sekali klik. Anda sudah dimanjakan dengan ‘One Stop Service’ untuk pemenuhan kebutuhan dan keinginan anda. Itulah kemajuan dunia digital yang sulit dibendung. Maka pepatah klasik itu ada benarnya.

Kalian tentu tahu dan punya aplikasi karaoke online yang namanya SMULE? Bagi yang hobby menyanyi dan karaoke, saya yakin kalian sudah memiliki aplikasi ini. Kalau demikian adanya, kalian dan saya berada pada jalur yang sama dengan hobby yang sama pula yakni menyanyi.

Tulisan kali ini hanya ingin berbagi bagaimana sisi manfaat yang coba saya ungkap atas pengalaman menggunakan aplikasi ini sejak tahun 2015. Pada saat itu SMULE masih menjadi aplikasi berbayar milik Apple Store. SMULE sendiri hadir tiga tahun lebih tua yakni 2012. Setelah dipasarkan melalui Goggle Play Store, akhirnya saya bisa memiliki aplikasi ini.

Indonesia sendiri adalah negara dengan jumlah smulers cukup signifikan. Berdasarkan data yang dikeluarkan viva.co.id, kita berada pada posisi kedua setelah Amerika, asal mula aplikasi ini dan diikuti Malaysia. Hampir 15 persen penduduk indonesia menggunakan aplikasi ini, dengan perbandingan 54 persen pengguna pria dan sisanya 46 persen adalah wanita. Artinya orang indonesia hampir 15 persen memiliki hobby yang seragam yakni bernyanyi.

Baca Juga :  Ev Williams wants Medium to be the next big thing — after he redefines 'big'

Di SMULE sendiri, fitur aplikasi ini cukup lengkap. Bagi anda yang suara berada dalam kategori biasa biasa saja, cukup hanya mengubah sedikit efek dengan berbagai pilihan, lalu disesuaikan dengan volume suara hasil rekaman, sisanya biarkan SMULE menyelesaikan tugasnya dengan mulia, untuk menghasilakan kualitas hasil rekaman yang baik.

Beda lagi dengan para pengguna yang sudah memiliki kemampuan di atas rata rata. Mereka tidak perlu harus mengatur kombinasi efek yang rumit. Sebab suara mereka secara bawaan sudah begitu bagus untuk didengarkan banyak orang.

Tapi dinamika SMULE yang paling sulit adalah bagaimana kita menghasilkan follower atau pengikut yang banyak dengan kualitas bernyanyi kita. Memang ada yang bisa secara instant mendapatkan follower dengan cara membeli follower bayaran atau robot. Tapi bagi saya itu sikap yang sangat tidak terpuji, apalagi dengan kualitas suara yang dibawah standar. Prinsipnya, dengan kualitas suara bagus akan sendirinya mendatangkan follower atau pengikut yang banyak. Sebab sebuah hasil tidak akan menghianati proses yang ada.

Baca Juga :  Kevin Marianus Wakili NTT Dalam Ajang Internasinal Eco Music Camp

Pengalaman saya dengan kualitas bernyanyi yang cukup baik saja,  sejak 4 tahun lalu bergabung baru 620 orang yang mengikuti saya. Dan itu tidak mudah. Bagaimana saya memperbaiki kualitas diri dalam bernyanyi, terutama teknik vokal dan sekutunya, serta memperbaiki hasil kualitas video saya. Disini solusinya cuman satu. Banyak belajar dan bergaul dengan orang- orang baik yang memiliki kualitas bagus dalam urusan bernyanyi. Dan itu saya rasakan benar. Setalah saya lakukan hal itu,  kemajuan dalam diri saya saat ini semakin baik walau belum terbaik.

Bagaimana cara bergaul dengan orang orang hebat itu? Sederhana tentunya. SMULE saat ini sudah banyak berseliweran grup dan komunitas. Sisa kita memilih kemana kita akan ‘parkir’ untuk belajar. Sebagai contoh, saya saat ini bergabung dalam tiga komunitas kecil tapi banyak ilmu yang saya dapat. Komunitas itu antaranya Indonesian Singer Talenta (IST), Diamond Family (DiFA) dan Best Buddies (BED). Semuanya dengan karakter beda beda.

Di IST misalnya saya belajar banyak soal lagu dangdut dan teknisnya, sebab IST banyak penyanyi dangdut hebat dan berbakat seperti Maya dan Rina. Selain itu di IST saya belajar juga soal bagaimana membuat aransemen song book yang baik dari Ahmad Yusuf (AY) orang lama SMULE.

Di DiFA lain lagi.  Kebetulan di komunitas itu ada teman saya Andre Alakatiri yang tentu kita tahu semua, dia salah satu director musik profesional di Indonesia. Saya belajar banyak dari dia soal cara memilih, menggunakan dan mengatur jarak headset yang baik dalam rekaman.

Baca Juga :  Nyaris Dimadu Pejabat, Ini Alasan Meggy Mau Dipoligami Kiwil Lagi

Namun Di BED saya belajar banyak ilmu. Dari soal kepekaan humanis antar sesama anggota grup hingga soal kualitas bernyanyi. Saya seolah menemukan keluarga baru dengan tingkat kepekaan sosial yang tinggi. Bahkan ada satu pernyataan dari salah seorang member yang cukup famous, KING Namanya, “Di BED itu tidak banyak orang yang kaya dan mapan. Tapi semua anak BED itu  orang baik,” ungkap dia di saat BED lakukan penggalangan dana buat anggota yang sedang terkena musibah.

Artinya apa? Bahwa dalam konteks kepekaan sosial, BED itu berisi 25 kepala dan hati yang baik. Banyak hal sudah dilakukan BED untuk membantu para anggota yang terkena musibah. Bahkan dengan keterbatasan dan kekurangan, anak anak BED selalu aktif dan memiliki andil besar untuk tampil paling depan memberikan bantuan secara maksimal.

Debbie, Founder BED mengatakan Para Buddies (Sebutan buat anak BED) memiliki tingkat kepekaan, solid serta setia kawan yang baik. Sebab dirinya membuat aturan yang simpel dengan menanamkan rasa peduli yang besar.

“ Di BED itu kita tidak terapkan aturan yang rumit-rumit, bahkan sangat simpel dan membuat nyaman semua anggota. Disaat mereka nyaman, mereka akan betah serta ada rasa memiliki BED,” ungkapnya.

  • Bagikan