Laiskodat Target 100 BUMDes Tahun Ini Di NTT

0
21

KUPANG,fokusnusatenggara.com- Gubernur NTT,  Viktor Bungtilu Laiskodat menargetkan pada tahun 2019 harus ada 100 Badan Usaha Milik Desa  (BUMDes) unggulan  dan berdaya saing di NTT. Kehadirannya diharapkan dapat menjadi motor penggerak  bagi BUMDes lainnya di NTT. Ini akan menjadi fondasi yang kuat dalam mendorong pembangunan perekonomian desa di NTT.

“Saya punya harapkan agar tahun 2019 ini ada 100 BUMDes yang hebat dimana masing-masing  punya produk unggulan, tentu, untuk menndongkrak pembangunan perekonomian Desa. Orang-orang yang pimpin BUMDes haruslah mereka yang punya jiwa bisnis,” jelas Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dalam arahannya saat Rapat Koordinasi Program Inovasi Desa Tingkat Provinsi NTT Tahun 2019 di Hotel Sasando Kupang, Jumat (5/4).

Menurut Viktor Bungtilu Laiskodat, untuk mencapai target tersebut dibutuhkan kesatuan gerak dalam berpikir  dan bekerja dari Gubernur, Bupati, Camat, Kepala Desa dan para pendamping. Karena dengan Dana Desa yang mencapai Rp. 3 triliun lebih dari Pemerintah Pusat, akan menjadi modal besar untuk mendorong NTT keluar dari urutan ketiga terbelakang dan termisikin.  Karena itu program dan kegiatan harus mampu dikerjakan dengan penuh tanggung jawab dengan karakter kepemimpinan yang berintegritas.

“Jangan banyak-banyak. Cukup dengan 100 BUMDes yang dipimpin oleh mereka yang punya karakter yang luar biasa dan terbiasa berpikir bisnis. Punya jiwa birokrat entrepreneur.  Jangan buat  BUMDes dengan struktur hebat, adakan rapat luar biasa  lalu tempatkan orang  seadanya. Kita ingin 100 ini tumbuh menjadi gerakan hebat dan yang lain pasti akan mengikuti. Jangan kita ingin punya 1000 BUMDes, tapi mati suri  dan tidak aktif semua ,” kata Viktor Bungtilu Laiskodat.

Lebih lanjut mantan Ketua Fraksi Nasdem tersebut mengingatkan agar BUMDes tersebut mengembangkan satu produk unggulan lokal. Pemerintah daerah punya peran untuk melakukan proteksi terhadap potensi-potensi tersebut. Juga membuka akses pasar terhadap hasil olahan BUMDes tersebut.

Umpamanya kata Gubernur Viktor, untuk tiga  Kabupaten di Manggarai Raya dan Ngada  ada produk unggulan Kopi. BUMDes bikin kopi bubuk karena kopi dari dua daerah ini terkenal dengan aromanya yang sudah mendunia. Jangan pikir pasar, karena Pemprov punya Perusahaan Daerah Flobamor untuk menampung produk-produk tersebut.

“ Kita punya kewajiban untuk mendorong inovasi masuk ke desa sesuai dengan  fungsi pemerintah sebagai fasilitator. Makan dan minum pada acara kantor dan hotel hendaknya dari hasil BUMDes. Kalau kita kerjakan semuanya ini dengan tanggung jawab moril yang sama, maka  pada tahun 2020 kita akan lahirkan 100 BUMDes  baru dengan produk-produk  luar biasa yang menggetarkan pentas nasional dan dorong petumbuhan BUMDes lainnya,” jelas  Viktor Bungtilu Laiskodat.

Di akhir sambutannya, Gubernur Viktor meminta para kepala desa dan para pendamping untuk bekerja semaksimal mungkin. Sebagai garda terdepan, keduanya harus berperan seperti malaikat karena orang-orang di desa pasti penuh dengan keterbatasan.

“Kelemahan sekecil apapun dalam membangun BUMDes khususnya dan desa pada umumnya harus segera diatasi. Jangan membiarkan ruang kesalahan menjadi semakin besar. Kita harus punya semangat kerja tidak hanya  push to the limit (bekerja sampai batas,red), tapi  terutama bekerja push over the limit (bekerja melampaui batas, red). Ini agar membawa NTT ke luar dari garis kemiskinan ,” pungkas  Viktor Bungtilu Laiskodat.

Sementara itu, Kepala Dinas (Kadis)  Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Sinun Petrus Manuk dalam laporannya mengungkapkan  sejak tahun 2015 sampai tahun 2019, total Dana Desa (DD) yang dialirkan ke NTT berjumlah sekitar Rp. 10 triliun lebih. Pada  tahun 2015, total DD yang digulirkan  hanya  Rp. 812 miliar lebih. Sementara untuk  tahun 2019 mencapai sekitar Rp. 3 triliun 20 miliar lebih untuk 3.026 desa di seluruh Nusa Tenggara Timur.

Namun untuk tahun 2019, baru Kabupaten Manggarai  Barat yang DD nya sudah ditransfer ke rekening desa. Sementara untuk kabupaten lainnya,  pembentukan produk-produk hukum di desanya masih berproses dan belum selesai, sehingga dananya belum ditransfer dari pusat.

“Untuk pembentukan BUMDes belum mencapai 30 persen atau sekitar 987 BUMDes. Yang aktif hanya sekitar 781 unit.  Kami akan pantau lagi pada tahun ini terkait model usaha BUMDes yang aktif tersebut. Kami targetkan 1.000 yang aktif pada tahun ini.Kami juga meminta kerjasama dari Pemerintah Kabupaten untuk melakukan pendampingan terkait pembuatan produk hukum desa sehingga dana desa dapat segera ditransfer,” kata Sinun Petrus Manuk.

PENULIS : USIF

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here