SBS-WT Harga Mati!!!, Yang Lain “Mati Harga”

Oleh : Jeffry Taolin

191

KUPANG,fokusnusatenggara.com– Tahapan Pilkada Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memasuki fase “hitung mundur”. Besok adalah election day atau hari pemungutan suara. Sebanyak 115 ribu lebih masyarakat Kabupaten Malaka akan menggunakan hak politik untuk memilih Bupati dan Wakil Bupati Malaka periode berikut.

Dua paket calon akan ditentukan besok melalui election day. Ada Paket Nomor Urut 2, SBS-WT (Stefanus Bria Seran dan Wendelinus Taolin) yang berhadapan dengan Simon Nahak dan Kim Taolin atau Paket SN-KT. Sejauh ini, SBS-WT sangat sulit dikalahkan dengan beberapa data pendukung.

Stefanus Bria Seran (SBS), sebagai bupati petahana memiliki tingkat populer atau dikenal sebesar 94 persen, merujuk pada hasil survey Indikator politik Indonesia, besutan surveyor kenamaan Burhanuddin Muhtadi. Dari 94 persen, 84 persen adalah faktor penentu dimana hampir seluruh masyarakat Kabupaten Malaka dipastikan akan memilih SBS-WT, berbeda sangat jauh dengan SN-KT yang berkutat di angka 16 persen.

Selain basis data survey, faktor lainnya adalah dukungan koalisi parpol yang menjatuhkan pilihan politik kepada SBS-WT. Tercatat ada enam parpol yakni, PDI Perjuangan, Gerindra, Golkar, Nasdem, Demokrat dan Hanura yang bergabung dalam gerbong koalisi SBS-WT. Dukungan enam parpol ini, tentu akan sangat mudah untuk mengantarkan SBS-WT menjadi kampium pada Pilkada Malaka dengan basis angka 84 persen tadi. Sedangkan lawan SBS-WT, harus bersusah payah dapatkan PKB, Perindo dan PSI sebagai kendaraan politik mereka.

Faktor selanjutnya adalah model kampanye yang dilakukan SBS-WT selama hampir dua bulan menjelang election day. SBS-WT memilih model kampanye pertemuan terbatas, dengan mendatangi setiap dusun di desa bahkan titik TPS, yang hadirkan konsentrasi massa pendukung sebanyak 44 orang pemilik hak suara serta masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Model kampanye ini, dalam istilah pertarungan politik sering dikenal dengan “Voter Resonant” atau gelombang pemilih, yang akan berdampak secara resonansi pada masyarakat lain baik itu loyalis, simpatisan, pendukung maupun lawan saekalipun, saat SBS-WT melakukan pertemuan terbatas di titik tertentu.

Model kampanye SBS-WT ini beda dengan yang dipakai SN-KT. Dalam pantauan media, model kampanye SN-KT diduga selalu menggunakan pola “migrasi pendukung” dari satu titik ke titik berikut, tanpa menghitung dan mengukur kekuatan riil. Model ini baik secara pertunjukan atau dagelan, tapi secara strategi politik jelas sangat lemah.

Bagaimana bisa kita merasa yakin lalu membuat klaim pernyataan kekanak-kanakan “Menang” tanpa menghitung riil basis kekuatan yang hakiki. Akhirnya, kesan yang muncul bahwa model ini hanya sebagai euforia semu dalam kampanye. Euforia itu penting. Tapi euforia kebablasan tanpa hitungan strategi itu namanya bunuh diri saat berpesta. Politik bukan soal gas motor, konvoi, migrasi pindah-pindah tanpa arah, yang akhirnya kejebak dalam dukungan semu oleh para “bunglon politik”.

Faktor lainnya adalah kemasan isu kampanye. Kalau soal ini, tentu orang yang tidak makan “bangku sekolah” dan bukan kategori melek politik pasti paham. SBS-WT selalu menyapa dengan capaian program, rencana program kerja lanjutan berbasis data. Faktor SBS dengan kecerdasaan intelektual yang mumpuni, mampu menyampaikan narasi terukur dan santun dengan jelas, atas apa yang dicapai, apa yang sedang dibuat dan akan dibuat. Bukan sekedar umbar janji.

Beda dengan lawan mereka. Dalam setiap kampanye selalu ada saja narasi “beraroma fitnah”, argumen tanpa data, konsep sebatas retorika bukan substansi, bahkan ada kesan kurang siap.

Hal ini bisa kita lihat dalam rekaman video debat terbuka antar paslon yang dilakukan KPU Malaka beberapa waktu lalu. Semua konsep menjadi pemimpin apabila terpilih nanti,  terkesan hanya retorika belaka yang coba ditampilkan oleh Paslon SN-KT. Dalam konteks kemasan isu dan program kerja calon pemimpin, lagi-lagi SBS-WT tunjukan kelas mereka sebagai paket yang smart.

Saya kemudian mencoba menarik basis historis dari niat majunya SN-KT sebagai penantang SBS-WT dalam hajatan politik ini. Mungkin ini keliru, tapi yang pasti bahwa SN-KT maju tanpa persiapan apa-apa. Tujuan mereka mungkin atau dugaan saya hanya ingin membalas dendam secara politik sebab pernah kalah bertarung lima tahun lalu.

Dendam itu baik, tapi harus kritis dalam mendesain kekuatan dan konsep. Bukan asal tabrak tanpa konsep. Kalau hanya bermodal motivasi ini, tentu sangat disayangkan. Politik bukan soal balas dendam. Politik adalah alat untuk melegitimasi kekuasaan demi melayani konstituen. Jangan karena ambisi pribadi dan kelompok untuk nafsu kekuasaan, rakyat Malaka menjadi korban.

Besok sejarah akan mencatat. Siapa yang layak dan pantas untuk diberi mandat menjadi pemimpin Kabupaten Malaka oleh 115.304 pemilik suara. Hasil tidak akan pernah menghianati proses. Sejauh ini SBS-WT “So Far So Good”. Sosok SBS yang matang secara politik, dengan memilih diam, adalah sikap yang sulit ditebak oleh lawan. Tentu lawan pasti putus asa. Mulai framing isu macam-macam, sampai lupa persipkan diri apabila besok mengalami hal terburuk yakni kalah.

Diamnya SBS, tentu menjadi senjata yang siap menyasar lawan. Selalu difitnah sana-sini oleh isu murahan tanpa data, SBS  tetap diam. Bagi SBS, “membunuh dengan diam” adalah hal baik untuk membuat lawan bingung tanpa pegangan. Tanpa sadar, lawan sedang “menari dalan irama genderang SBS”.

Hampir seluruh analisa yang berbasis data, baik itu dari lembaga politik, pakar, pengamat bahkan analis kawakan dalam ruang diskusi publik, mengerucut pada satu kesimpulan bahwa SB-WT akan menjadi kampium dan juara dalam kontestasi ini.

SBS-WT sudah bekerja maksimal, Restu Tuhan dan mandat rakyat Malaka  akan memberikan hasil esok hari, sesuai dengan jerih payah yang mereka tunjukan.  Bagi 84 persen Rakyat Malaka, “SBS-WT Harga Mati!!!”,  yang lain “Mati Harga”. Siapapun calonnya, hanya SBS-WT pilihannya. ++++

Jeffry Taolin, Jurnalis Asal Kabupaten Malaka Tinggal Di Kecamatan Io Kufeu

Comments
Loading...