Sangat Berkelas Gaya Debat SBS

209

BETUN,fokusnusatenggara.com Gaya bicara yang lugas, penguasaan materi yang mumpuni, intonasi vokal yang tegas, serta kemampuan publik speaking yang baik, itulah kesan pertama yang akan terlintas bagi siapa saja yang meyaksikan debat Visi dan Misi Calon Bupati dan Wakil Bupati Malaka, Provinsi NTT, Rabu, 4 November 2020.

Semua mata pasti tertuju pada Stefanus Bria Seran atau yang akrab disapa dengan panggilan SBS ini, Bakal Calon Bupati Malaka, yang berpasangan dengan Wendelinus Taolin, dan dikenal dengan nama Paket SBS-WT.  SBS tampil sangat luar biasa dan kuasai arena debat.

Jujur, dalam debat hari ini, panggung itu menjadi milik SBS. Debat Publik yang mengusung tema :”Menuju Pemimpin Malaka Yang Responsif, Produktif dan Inovatif”  dipandu Moderator, Maryati Luturmas Adoe dengan para Panelis,  Ahmad Atang, dan Jhon Kothan tersebut, seolah SBS sedang berikan kuliah umum tentang Kabupaten Malaka dan isinya.

Semula banyak ekspektasi yang inginkan Debat Publik Calon Bupati dan Wakil Bupati Malaka bakal berjalan seru,  diisi dengan adu gagasan yang ilmiah. Maklum, SBS sebagai bupati petahana, dihadapkan pada lawan yang secara akademik bergelar doktor.

Namun, suasana debat dengan isi materi serta narasi berbasis data dari SBS, seolah membuat lawannya, yakni Paket Simon Nahak dan Kim Taolin atau SN-KT tidak berkutik bahkan terkesan putus logika.

Banyak analisa muncul usai debat. Banyak pula penilaian bahwa Paket SN-KT mungkin kurang siap untuk hadapi debat kali ini. Bisa juga, kurang siapnya paket ini, didasarkan atas penguasaan materi yang tidak tuntas. Mungkin analisa ini salah, sebab masih penuh kemungkinan.

Bahkan dalam catatan penulis, yang memantau jalannya debat lewat live streaming facebook, akun milik RRI Atambua ini, ada beberapa catatan soal inkonsistensi narasi tanpa data, serta konsep debat yang penuh retorika dari Paket SN-KT.

Pada Segmen Satu misalnya, saat penyampaian visi dan misi, Paket SN-KT paparkan soal pandangan mereka dalam memimpin Kabupaten Malaka lima tahun ke depan. Dimana pasangan ini memiliki  yakni, ” Terwujudnya Kabupaten Malaka Yang Berbudaya, Berkarakter, Mandiri dan Berkeadilan”.

Pada point kedua penyampaian misi oleh Paslon No 1,  Paket SN-KT ingin memperkokoh adat istiadat “Sabete Saladi – Hakneter Haktaek”, saling menghormati dan menghargai satu sama lain untuk tetap dilestarikan.

Namun penyampaian misi ini, tentu sangat kontradiksi dengan praktek yang dijalankan. Dimana bicara soal budaya  Sabete Saladi, dengan konsep dasar saling hormat dan menghargai, seolah SN-KT sedang ingkar dan langgar tentang apa makna dari konsep ini.

Bagaimana bisa bicara soal Sabete Saladi, tetapi Kim Taolin, Calon Wakil Bupati Simon Nahak, tega dan berani melawan Wendelinus Taolin, bapak kecil kandungnya untuk bertarung dalam kontestasi Pilkada Malaka. Miris, Konsep Sabete Saladi  hanya  menjadi preseden buruk, untuk dipakai pada awal langkah mereka.

Pada Segmen Debat Antar Calon misalnya, lagi-lagi ekspektasi soal debat berkualitas dengan saling konsisten atas argumentasi dan narasi yang disampaikan, tidak terlihat pada Paket SN-KT.

Sesi pertanyaan yang disampaikan oleh Paket SBS-WT soal Struktur dan Postur APBD Malaka, jika dikorelasikan dengan banyak janji dan program yang disampaikan oleh Paket SN-KT, dalam setiap  kampanye banyak biasnya.

Bahkan jawaban disampaikan oleh Cabup Simon Nahak, terkesan ngambang dan tidak mengena pada substansi. Sebab bicara soal struktur APBD, kita harus paham benar soal bagaimana porsi struktur pendapatan, pembiayaan, belanja, hingga surplus atau defisit.

Apabila  kita mampu membaca serta analisa dengan baik, baru kita sebagai kepala daerah bisa tentukan parameter lewat kebijakan anggaran yang berpedoman pada skala prioritas pembangunan, demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat umum. Namun jawaban Simon Nahak, tidak ada penegasan  atas pertanyaan SBS tersebut.

Bahkan pada saat Paslon SBS-WT memberikan pertanyaan soal upaya dari Paslon Nomor 1, dalam membuka lapangan pekerjaan bagi anak Malaka, agar tidak menjadi pekerja migran di luar Kabupaten Malaka, agar bisa menekan angka pengangguran dan meningkatkan kemakmuran,  namun jawaban Simon Nahak justru out of content.

Simon Nahak, hanya berbicara soal kebijakan umum terkait upaya membuka diri kepada investor luar, tanpa ada proteksi dengan regulasi yang ketat. Mengapa demikian?. Ini debat, rakyat butuh konsep nyata bukan sekedar retorika semu.

Saat menjawab pertanyaan ini, Simon Nahak sempat menyisakan waktu, dan moderator memberi kesempatan kepada Kim Taolin, sang Calon Wakil Bupati untuk menambahkan.

Sayang, Setali Tiga Uang. Jawaban Kim Taolin terkesan meraba-raba, bicara tanpa menyentuh substansi pertanyaan yang ada, hingga dihentikan waktu.

Menanggapi jawaban SN-KT, SBS dengan  tegas mengatakan, bahwa Investor boleh datang ke Malaka. Tetapi, wajib ada proteksi bagi daerah. Dimana daerah wajib diberi peran dalam proses awal sampai akhir, agar  selaras dengan Undang-Undang Cipta Kerja, yang baru disahkan oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Tujuan proteksi ini, agar daerah terhindar dari para “Penumpang Gelap” yang isinya pebisnis nakal.

Tanggapan SBS  terkesan mendikte lawan, agar mengajak lawan masuk ke substansi soal yang dibahas.  Dengan alasan  pembenaran, Simon Nahak memberi jawaban  “mengekor”.  Dirinya mulai sedikit berani menjawab dan menyentuh pada hal substansi.

Pada tahap ini, bisa diambil kesimpulan bahwa cara menggiring lawan masuk dalam dinamika debat yang dimainkan SBS sungguh “Cantik”.

Inkonsistensi SN-KT antara konsep dan pelaksanaan kembali terjadi lagi. Maklum ini debat Pilkada pertama kali yang dihadapi SN-KT.

Jadi sangat wajar bagi “pemain baru” di ajang Pilkada, kadang harus banyak belajar soal teknik debat dengan segala dinamikanya, termasuk soal kemampuan sampaikan argumen dengan narasi yang baik, berisi dan menohok.

Dengan adanya sikap mendukung kehadiran investor, tentu nama paket SN-KT yang mengusung  konsep koalisi kerakyatan dan pro rakyat perlu dipertanyakan.

Bagaimana bisa disaat rakyat butuh sentuhan program kesejahteraan, anda konsisten membangun Pusat Pemerintah (Puspem).

Dimana pembangunan Puspem,  pasti akan sarat kepentingan proyek dan bisa terindikasi anda sedang melakukan “hubungan mesra” dengan pihak ketiga yang disebut Investor dan rakyat pasti dikorbankan.

Semoga analisa ini salah. Apabila kejadian ini benar, Rakyat Malaka tentu akan sangat mengerti dan bisa menilai  mana Pemimpin Pro Rakyat, dan mana Pemimpin yang Bermental Proyek.

SBS-WT jelas tegaskan, bahwa selagi banyak jalan di Malaka yang masih berlubang dan belum ada jembatan, serta rakyat masih mengeluh soal air bersih serta infra struktur lain yang belum memadahi, SBS tidak akan bangun Pusat Pemerintah, apabila mandat rakyat diberikan untuk melanjutkan kepemimpinan di Rai Malaka.

Bagi SBS, uang rakyat harus dikembalikan ke rakyat lewat pembangunan demi kemakmuran rakyat. Bagaimana rakyat Malaka? Berkelas bukan konsep SBS ini kan. Inilah sosok pro rakyat sesungguhnya.

Ini Debat Bung!!!.  Adu gagasan bukan hanya sebagai pemenuhan syarat yang wajib diikuti setiap kontestan, tetapi sebagai ajang unjuk menyakinkan dan mendapat simpati rakyat.

Program kalian harus  populis dan berpihak pada rakyat,  dengan dibalut narasi argumentasi yang kuat, guna meraih simpati mereka. 

Debat hari ini harus diakui hanya milik SBS-WT. Mereka datang dengan kesiapan yang matang,  penguasaan materi yang bagus serta penyampaian yang jelas. Terima Kasih SBS, atas “Kuliah Umum” yang anda berikan pada seluruh rakyat Malaka  dan dunia pada hari ini. Sungguh sangat Berkelas dan Super!!!. +++++

Jeffry Taolin, Jurnalis Asal Malaka yang saat ini tinggal di Kecamatan Io Kufeu.

Comments
Loading...