Lawan Jangan “Kejang-Kejang” Dengan Gaya Pacul Tanah SBS

163

BETUN,fokusnusatenggara.com- Blasius Tae, Petani 56 Tahun, Warga Dusun Rantete, Desa Tniumanu, Kecamatan Laenmanen, Kabupaten Malaka, Provinsi NTT nampak bahagia sore itu.

Senyum sumringah nampak hiasi wajahnya yang mulai berkerut. Di atas tanah ukuran 400 are tersebut, Blasius berdiri sambil angguk-angguk bahagia.

Sesekali ia menarik napas panjang, menghirup dalam-dalam, seolah ingin rasakan aroma humus dari tanah kebun miliknya, yang baru selesai dibalik atau dipacul.

Blasius beruntung. selama tiga tahun berturut-turut, dia tidak dibuat pusing, untuk urusan biaya makan dan minum, sewa traktor dan BBM, guna mengolah lahan kebunnya menjelang musim tanam.

Semua urusan itu, sudah tiga kali musim tanam ini, diambil alih oleh Stefanus Bria Seran, Bupati Malaka, melalui konsep program Revolusi Pertanian Malaka.

Hebat!!!. itulah ungkapan sederhana Blasius Tae, kepada Stefanus Bria Seran, Bupati Malaka.  Bagi dirinya yang hanya tamatan Sekolah Dasar, ungkapan ini jelas penuh makna. Sosok Stefanus Bria Seran atau kerap disapa SBS ini, memang tidak Sakti, tapi Hebat!!!

Hanya SBS saja, yang mau melakukan semua hal ini demi Rakyat Malaka. Hanya SBS, seorang bupati yang mau kerja balik tanah atau pacul tanah untuk rakyatnya. Sungguh sebuah pelayanan yang sangat mulia.

” Dapat dimana bupati datang pacul kasih kita kebun ini,” Ungkap Blasius penuh takjub ketika redaksi fokusnusatenggara.com bertandang ke lahan miliknya, Senin, 26 Oktober 2020.

Ungkapan Blasius yang hanya “Makan Bangku” SD ini, ingin memberikan testimoni kepada kita, bahwa sosok SBS adalah sosok manusia langkah, yang menjadi pemimpin datang untuk melayani, bukan dilayani.

Saat orang dan kelompok lain masih tawarkan konsep Swasembada Pangan secara malu-malu dan gagap, SBS membuat “Pigura” rekam jejak tangannya dengan Pacul Tanah.

Saat orang lain bicara soal “Akan Lakukan ini dan Itu”,  SBS turun tangan selesaikan dengan bukti nyata, dan dipantau saban hari perkembangannya, demi kemakmuran Rakyat Malaka. Suara bising dari cibiran dan nyinyir, dianggap angin lalu. Bagi SBS, melayani Rakyat Malaka adalah tujuannya.

Saat ini, Suami dari Beatrix Tae Bria tersebut, maju bertarung dalam Pilkada Malaka, untuk melanjutkan kepemimpinannya pada periode kedua. Sosok pendampingnya adalah Wendelinus Taolin, dengan nama Paket SBS-WT, sebagai sapaan duet politik mereka.

Lawan mereka Simon Nahak, Praktisi Hukum, tanpa rekam jejak dalam karier politik dan pemerintah, yang menggandeng Kim Taolin, Mantan Anggota Penggati Antar Waktu DPRD NTT, yang “Dihibah” secara politik dari Alfridus Bria Seran pada periode 2014-2019 lalu.

Sisa sebulan menjelang pencoblosan ini, tranding dan elektabilitas Paket SBS-WT terus naik dan sulit terkejar. Pasalnya, SBS-WT memilih model kampanye dengan datangi setiap TPS di setiap dusun, sedangkan lawan diduga hanya andalkan mobilisasi massa dari titik satu ke titik yang lain.

SBS datang dengan bukti dan mendapatkan testimoni rakyat soal kerja nyata, sedangkan lawan di lain pihak, hanya sibuk menawarkan konsep nanti, yang sebatas retorika apabila terpilih, bukan pada tataran substansi.

Disaat Lawan bicara soal Swasembada Pangan, SBS setiap hari hanya memantau aktivitas traktor di kebun rakyat. Harus diakui, itulah beda SBS dengan Lawannya.

Berdasarkan data yang dihimpun, hingga Senin, 26 Oktober 2020, luas lahan kering rakyat Malaka yang berhasil dipacul SBS dengan program RPM sebesar 1.412,33 Hektar Are. Ini bicara bukti dengan data, bukan sekedar konsep apalagi hanya teriak tanpa data dan solusi.

Ingat, Ini momentum Pilkada. Rakyat sebagai pemangku hak suara, akan memilih dengan melihat bukti. Mereka tidak mau bahkan ogah hanya diberi “makan janji”, apalagi PHP palsu dalam ketidak pastian.

Jangan salahkan SBS apabila anda “Kejang-Kejang” dengan bukti dan rekam jejaknya, yang sudah tertanam di benak Rakyat Malaka.

Seperti Pepatah Klasik ” Hasil Tidak Akan Menghianati Proses”. Proses yang dilakukan SBS selalu terukur dengan tepat. Bukan konsep semalam, lalu bangun pagi dan bicara, kemudian hasilnya nol dan kejang-kejang. ++++

 

Jeffry Taolin, Jurnalis Yang Saat Ini Berdomisili Di Kecamatan Io Kufeu, Kabupaten Malaka.

Comments
Loading...