Lapor Kasus Drum Aspal, Sahabat Nilai Lawan Politik Mulai Panik

0 49

ATAMBUA,fokusnusatenggara.com- Pelaksanaan Pilkada Di Kabupaten Belu-NTT tinggal menghitung hari. Namun mendekati hari pencoblosan tensi politik di daerah yang berbatasan dengan Negara Timor Leste ini pulai ‘panas’.  Bukan hanya panas tetapi kepanikan juga melanda para paket pasangan calon dengan tim suksesnya untuk menghalalkan segala cara.

Informasi terbaru yang berhasil dihimpun redaksi www.fokusnusatenggara.com adalah soal laporan beberapa masyarakat di di Lokasi Translok Halituku, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, ke Panwaslu Kabupaten Belu, terkait dugaan praktek money politik dengan modus pembagian drum aspal, oleh sekelompok orang yang menamakan diri dari pasangan calon bupati paket Sahabat (Willy Lay- Ose Luan).

aspalMenanggapi hal tersebut, Ketua tim Paket Sahabat, John Atet, yang dihubungi siang tadi menegaskan, apa yang dilakukan oleh lawan politik yang melaporkan kasus ini sebagai dugaan kegiatan money politik, adalah sebuah ketakutan dan kepanikan yang berlebihan. Pasalnya, dalam kegiatan pembagian drum aspal yang dilakukan oleh Frans Tanjung dan beberapa kelompok masyarakat tidak mengatasnamakan paket Sabahat.

“ Saya tidak mengerti motif apa dibalik laporan itu. Apa karena karena panik dan takut yang berlebihan atau hanya mencoba mengalihkan isu dan mendapat simpati semu dari masyarakat. Sebab sangat jelas bahwa pembagian drum untuk itu menampung air bersih adalah murni kegiatan kemanusian dan permintaan warga. Bukan kegiatan politik yang diisukan oleh lawan,” tegasnya.

Atet juga menjelaskan, kegiatan yang dilakukan oleh Frans Tanjung itu murni kegiatan kemanusian bukan politik. Apalagi menurutnya, berdasarkan informasi kegiatan tersebut atas suruhan Willy Lay sebagai calon bupati, sangatlah tidak benar.

“ Itu kegiatan kemanusian Frans Tanjung secara pribadi bukan kegiatan atas nama politik apalagi paket Sahabat. Bahkan ada isu bilang ini atas suruhan Willy Lay itu sangat tidak benar. Ini adalah bentuk kegalauan dari pihak lawan yang mulai takut akan kekalahan dan mencari sensasi politik semata,” jelasnya.

Menanggapi rencana laporan tersebut, menurut Atet, dirinya dan paket Sahabat akan siap berikan klarifikasi apabila diperlukan oleh Panwaslu dalam pemerikasaan. “ Kami sebagai masyarakat yang taat hukum akan penuhi panggilan dan tidak mangkir kalau dipanggil untuk berikan klarifikasi,” jelasnya.

Sementara itu Frans Tanjung, yang disebut- sebut sebagai orang yang membagikan drum aspal kepada msayarakat ketika dihubungi www.fokusnusatenggara siang tadi membantah dengan keras, anggapan bahwa kegiatan itu adalah bagian dari dugaan praktek money politik.

Menurutnya, pembagian drum aspal kepada masyakat untuk menampung air bersih hanya didasarkan pada kegiatan kemanusiaan. Bahkan kegiatan semacam ini sudah dilakukan selama bertahun-tahun, sebelum gong Pilkada Belu ditabuh.

“ Saya tegaskan bahwa kegiatan ini bukan kegiatan yang berhubungan dengan politik. Saya dan keluarga sudah bantu masyarakat jauh sebelum ada hajatan politik. Masyarakat kita susah mau tampung air kami bantu, bahkan bukan hanya drum saja, tetapi mobil jenasah juga kita bantu masyarakat selama ini, dan semuanya gratis,” jelasnya.

Terpisah Ketua Panwaslu Kabupaten Belu, Andreas Pareira menegaskan, bahwa laporan masyarakat terkait hal ini belum sampai ke Panwaslu Kabupaten Belu. bahkan sampai saat saat ini, laporan tersebut hanya di proses di Panwascam Tasifeto Barat.

“ Kita belum dapat laporan sampai saat ini. Laporan itu hanya di Panwascam Tasbar saja. Dan mereka masih lakukan proses. Kalau sudah diproses akan disampaikan kepada kita untuk dibuat kesimpulan,” jelasnya melalui sambungan wawancara per telepon siang tadi. (FaTur)

 

Comments
Loading...