Dugaan Terkuat, Mesin AirAsia QZ8501 Mati Lalu Menghujam ke Laut

0 52

175732_asiaaJAKARTA,fokusnusatenggara.com – Temuan serpihan dan penumpang pesawat dan menunjukkan tidak adanya tanda-tanda ledakan di udara. Dugaan terkuat saat ini mesin AirAsia QZ8501 mati karena icing di dalam awan cumulonimbus, lalu pesawat jatuh ke laut.

“Berdasarkan data yang tersedia di lokasi terakhir pesawat yang diterima cuaca adalah faktor pemicu terjadinya kecelakaan tersebut. Fenomena cuaca yang paling memungkinkan adalah terjadinya icing yang dapat menyebabkan mesin pesawat mengalami kerusakan karena pendinginan,” demikian bagian kesimpulan analisis BMKG berjudul ‘Analisis Meteorologis Kecelakaan AirAsia QZ8501’ yang dikutip detikcom dari situs BMKG, Senin (5/1/2014).

Analisis ini dilakukan oleh Kepala Penelitian dan Pengembangan BMKG Prof Edvin Aldrian, dan timnya yakni Ferdika Amsal, Jose Rizal, dan Kadarsah. Hasil analisis BMKG ini sejalan dengan analisis pilot senior Garuda Indonesia, Jeffrey Adrian. Jeffrey menduga mesin pesawat mati saat masuk ke dalam awan badai cumulonimbus (CB), kemudian pesawat stall atau jatuh ke laut.
“Mesin mati disebabkan masuk ke CB, upset awal dari stall dan spin pesawat tidak dapat dikontrol dengan kemudi, menyebabkan menghujam,” kata Jeffrey Adrian, Senin (29/12/2014).

Menurut Jeffrey, pilot sebenarnya bisa memonitor lokasi CB atau bakal CB, hujan deras, dan situasi cuaca lain melalui radar cuaca di kokpit yang diaplikasikan kepada track pesawat dan peta. Monitor tersebut juga menunjukkan informasi tentang arah angin kecepatan angin di level tersebut.
“Track pesawat terutama adalah info celah-celah yang aman untuk dilalui. Yang utama adalah gambar celah-celah yang aman untuk dilalui, yang tidak terlalu jauh dari original track. Bila celah sudah tidak bisa didapat dikarenakan sudah seperti menghadapi tembok panjang, kalaupun ada terlalu jauh dari original track,” katanya.
Memang pilot pesawat AirAsia QZ8501 sempat request untuk naik ke ketinggian tertentu. Namun permintaan itu belum disetujui ATC karena masih ada 6 pesawat di ketinggian yang sama. Pada akhirnya tak ada pilihan lain bagi pilot captain Irianto selain menembus awan CB.
“Tampak pilot tidak dapat berkelit dari CB di ketinggian tersebut (FL320) oleh sebab itu dia minta naik ke FL380 yang tidak mendapat izin karena di level yang diminta sudah ada pesawat lain atau dalam waktu yang berdekatan ada pesawat di level lainnya 340 360 ke barat atau 330 350 370 ke timur,” katanya.
Namun hingga kini tak ada yang berani memastikan apakah awan CB tersebut yang membuat pesawat jatuh. BMKG juga tak menyebut hasil temuannya itu sebagai kesimpulan akhir penyebab jatuhnya pesawat berpenumpang 162 orang termasuk awak itu. Evakuasi sementara ini terus dilakukan, termasuk pencarian black box yang menjadi saksi bisu jatuhnya pesawat Airbus A320-200 tersebut di Selat Karimata. (Sumber : Dikutip dari detik.com- http://news.detik.com/read/2015/01/05/175641/2794531/10/dugaan-terkuat-mesin-airasia-qz8501-mati-lalu-menghujam-ke-laut?9922022)

Comments
Loading...