Di Sawah Juga Mereka Harmonis

  • Bagikan

TAMBOLAKA,fokusnusatenggara.com- Sawah selalu identik dengan lumpur dan kotor. Bagi kalangan masyarakat yang hidup nyaman dan aman di kota, akan sangat canggung bahkan tak rela untuk berlumpur dalam sawah dengan beratap terik matahari. Bagi mereka, cukup menikmati hasil panen, tanpa berpikir panjang soal proses awal seperti apa.

Namun demikian, tidak dengan Benny K Harman. Sawah bagi Calon Gubernur NTT Nomor Urut 3 tersebut, adalah memori masa kanak dan tempat yang tidak asing baginya. Jauh sebelum sampai pada posisi ini, Sawah adalah tempat Benny K Harman (BKH), habiskan massa kecilnya di Manggarai,  Nusa Tenggara Timur.

Baca Juga :  5000 Warga Muslim Dukung Benny K Harman

Rabu, 14 Maret 2018, memori massa kecil BKH kembali terulang. Siapa sangka, dalam perjalanan kegiatan kampanye di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), ketika menyusuri ruas jalan Desa Kori, Kecamatan Kodi Utara, tiba –tiba mobil yang ditumpangi BKH berhenti persis di tepi pematang sawah.

BKH langsung turun dan menyalami puluhan petani yang siang itu sibuk mengerjakan lahan milik mereka. “ Selamat Siang bapak mama semua, apa khabar?,” sapa BKH mengawali pertemuan tersebut. Seketika para petani yang lagi asik dengan aktifitas membajak, berhenti dan datang menyalami BKH. Tanpa sekat, tidak hanya bersalaman tetapi ada dari mereka yang memeluk BKH.

Baca Juga :  Yan Mboeik : Jangan Pilih Pemimpin Yang Korupsi

“ Jujur, baru kali ini ada orang besar datang langsung ke kami dan lihat kerja kami masyarakat kecil seperti ini. Kami sangat senang dan bangga dengan bapak,” ungkap Martinus Muda Kondo saat menyalami BKH.

Duduk di tepi pematang bukan hal tabuh bagi BKH. Sambil berbicara, BKH juga mendengar aspirasi dan keluhan mereka. Menurut Kondo, kendala yang dihadapi selama ini hanya pada jumlah panen yang tidak sebanding dengan luas lahan. Tata kelolah model pertanian moderen, serta sarana penunjang menjadi faktor kuat yang mempengaruhi hasil panen.

Baca Juga :  Paket Harmoni Siap Terapkan Desa Aplikasi

“ Tahun lalu kami semua gagal panen karena terkena hama. Sekarang belum pasti akan berhasil atau tidak,  Kami tidak tahu cara mengukur berapa ukuran yang baik untuk tanam padi, sehingga hasil yang kami dapat sangat sedikit. Belum lagi debit air yang masuk sedikit, serta kami beli pupuk sendiri tidak ada subsidi ya terpaksa pinjam dari desa sebelah,” keluh Kondo pada BKH.

Untuk itu Dia mengharapkan pada BKH, jika terpilih bisa membantu tenaga penyuluh pertanian yang mampu mengajarkan cara pengelolaan sawah, memberikan bantuan pupuk dan obat-obatan.

  • Bagikan