Di Sawah Juga Mereka Harmonis

0
1173
Loading...

TAMBOLAKA,fokusnusatenggara.com- Sawah selalu identik dengan lumpur dan kotor. Bagi kalangan masyarakat yang hidup nyaman dan aman di kota, akan sangat canggung bahkan tak rela untuk berlumpur dalam sawah dengan beratap terik matahari. Bagi mereka, cukup menikmati hasil panen, tanpa berpikir panjang soal proses awal seperti apa.

Namun demikian, tidak dengan Benny K Harman. Sawah bagi Calon Gubernur NTT Nomor Urut 3 tersebut, adalah memori masa kanak dan tempat yang tidak asing baginya. Jauh sebelum sampai pada posisi ini, Sawah adalah tempat Benny K Harman (BKH), habiskan massa kecilnya di Manggarai,  Nusa Tenggara Timur.

Rabu, 14 Maret 2018, memori massa kecil BKH kembali terulang. Siapa sangka, dalam perjalanan kegiatan kampanye di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), ketika menyusuri ruas jalan Desa Kori, Kecamatan Kodi Utara, tiba –tiba mobil yang ditumpangi BKH berhenti persis di tepi pematang sawah.

BKH langsung turun dan menyalami puluhan petani yang siang itu sibuk mengerjakan lahan milik mereka. “ Selamat Siang bapak mama semua, apa khabar?,” sapa BKH mengawali pertemuan tersebut. Seketika para petani yang lagi asik dengan aktifitas membajak, berhenti dan datang menyalami BKH. Tanpa sekat, tidak hanya bersalaman tetapi ada dari mereka yang memeluk BKH.

“ Jujur, baru kali ini ada orang besar datang langsung ke kami dan lihat kerja kami masyarakat kecil seperti ini. Kami sangat senang dan bangga dengan bapak,” ungkap Martinus Muda Kondo saat menyalami BKH.

Duduk di tepi pematang bukan hal tabuh bagi BKH. Sambil berbicara, BKH juga mendengar aspirasi dan keluhan mereka. Menurut Kondo, kendala yang dihadapi selama ini hanya pada jumlah panen yang tidak sebanding dengan luas lahan. Tata kelolah model pertanian moderen, serta sarana penunjang menjadi faktor kuat yang mempengaruhi hasil panen.

“ Tahun lalu kami semua gagal panen karena terkena hama. Sekarang belum pasti akan berhasil atau tidak,  Kami tidak tahu cara mengukur berapa ukuran yang baik untuk tanam padi, sehingga hasil yang kami dapat sangat sedikit. Belum lagi debit air yang masuk sedikit, serta kami beli pupuk sendiri tidak ada subsidi ya terpaksa pinjam dari desa sebelah,” keluh Kondo pada BKH.

Untuk itu Dia mengharapkan pada BKH, jika terpilih bisa membantu tenaga penyuluh pertanian yang mampu mengajarkan cara pengelolaan sawah, memberikan bantuan pupuk dan obat-obatan.

“Kami sudah buat proposal ke propinsi, tapi belum dijawab sampai saat ini,” ungkapnya.

Menanggapi persoalan yang disampaikan tersebut, Benny K Harman mengatakan komitmen paket Harmoni untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTT termasuk kesejahteraan petani dengan Kartu modal petani, guna menjawab masalah-masalah yang disampaikan.

“ Manfaat kartu ini sangat banyak, para petani bisa memanfaatkan kartu ini untuk mendapatkan bantuan. Bahkan kalau gagal panen, kartu ini berfungsi sebagai klaim asuransi produksi petani, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku,” kata mantan ketua komisi III DPR RI ini.

Untuk meningkatkan hasil pertanian, kata BKH, kalau diberi kesempatan untuk memimpin masyarakat NTT, Ia akan mengoptimalkan tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang ada dengan memberikan insentif tambahan dan penghargaan khusus.

“Kami akan berdayakan peran PPL yang sudah ada, dengan terjun langsung dan berikan pendidikan pelatihan kepada petani. Kerja mereka akan diberikan penghargaan dan apresiasi dari pemerintah,” tegasnya.

Jawaban cerdas dan menyentuh pada akar persoalan yang disampaikan BKH, menjadi oasa penyejuk bagi mereka. Bahkan mereka menilai sosok BKH memiliki ide dan gagasan berlian soal bagaimana membangun sektor pertanian di NTT.

“ Bapak orang pertama yang datang ke kami dengan konsep dan tawaran program yang berpihak pada kami. Kami tidak janji, tapi kami yang ada saat ini, tentu akan kasih suara ke bapak. Sebab bapak datang langsung duduk dengan kami disini. Kalau yang lain jangankan datang duduk, singgah saja tidak pernah,” ungkap Kondo.

Itulah Benny K Harman. Sosok politikus senayan yang sangat sederhana, yang rela tinggalkan semua kemewahan di Jakarta, hanya datang untuk melayani masyarakat NTT. Desa Kori menjadi saksi harmonisnya BKH dengan para petani. Ada canda, kemesraan, bahkan ada mimpi antara mereka. Kalau bukan BKH, artinya tidak ada yang lain, yang seharmonis BKH. (fatur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here