Berita Soal Pelemparan Tim Kampanye SN-KT Dinilai Tendensius

535

BETUN,fokusnusatenggara.com- Berita soal dugaan peristiwa pelemparan terhadap Tim Kampanye Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Malaka,  Simon Nahak dan Kim Taolin atau yang dikenal dengan Paket SN-KT yang dimuat oleh media online www.nkripost,com,  dinilai tendensius, bahkan terkesan menuduh tanpa bukti.

Pasalnya, dalam dua berita yang diturunkan dengan judul “Aksi Pelemparan Tim Kampanye SN-KT, Ditonton Oleh Cabup SBS dan Ketua DPRD” (link https://nkripost.com/aksi-pelemparan-tim-kampanye-sn-kt-ditonton-oleh-cabup-sbs-dan-ketua-dprd/)  dan berita dengan judul “Aksi Pelemparan Rombongan Tim SN-KT Terindikasi Unsur Perencanaan”  (Link https://nkripost.com/aksi-pelemparan-rombongan-tim-sn-kt-terindikasi-unsur-perencanaan/)  yang diturunkan pada Tanggal 12 Oktober 2020, tidak memenuhi standar dan kaidah jurnalistik.

“Kalau saya membaca berita tersebut, sangat tendensius sekali, bahkan tidak sesuai kaidah dan standar penulisan berita. Bagaimana bisa dalam berita kedua, soal aksi pelemparan itu terindikasi unsur perencanaan,  wartawan yang menulis berita itu dalam lead atau teras berita langsung membuat kesimpulan bahwa kejadian tersebut terjadi di rumah bapak Stefanus Bria Seran yang juga calon dalam pilkada kali ini. Ini kan pembohongan publik,” ungkap Jeffry Taolin, Koordinator Wilayah (Korwil) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Jurnalis Online Indonesia (JOIN), Wilayah Bali-Nusa Tenggara, kepada wartawan, Senin, 12 Oktober 2020.

Dijelaskannya, wartawan yang cakap dan cerdas, tentu sangat mengerti dengan istilah Lead atau teras berita. Dimana Lead atau teras berita adalah paragraf pertama dari berita yang mengandung gambaran umum tentang keseluruhan isi berita. Dalam berita tersebut, pada paragraf pertama, sudah mengatakan bahwa kejadian ini terjadi di rumah Stefanus Bria Seran atau kerap disapa SBS.

“ Apa benar kasus ini terjadi di rumah SBS? Janganlah kita mengarang bebas, tanpa didukung fakta yang sebenarnya. Dalam tulisan itu saja kelihatan sudah ada upaya menipu atau menggiring opini. Dimana dikatakan terjadi di rumah bapak SBS, sedangkan faktanya tidak demikian. Jadi jangan membuat kesimpulan yang prematur, tanpa disertai verifikasi yang lengkap, sebab jurnalis menulis berdasarkan fakta, bukan opini penulis, apalagi membuat kesimpulan tanpa data yang valid,” jelasnya.

Sementara itu, Stefanus Bria Seran (SBS), Calon Bupati Malaka, yang diminta komentarnya terkait peristiwa ini menjelaskan, berita yang dibuat salah kaprah. Dimana dalam judul maupun isi berita, wartawan menulis agar paslon bereaksi atas peristiwa ini. Pasalnya, soal keributan dalam masa tahapan Pilkada bukan domain dan urusan dari Paslon, melainkan masuk pada kewenangan penyelenggara dan aparat keamanan.

“ Ini sudah salah kaprah. Berita itu apa kaitannya dengan paslon, lalu meminta paslon untuk bereaksi. Memangnya  kalau ada kekacauan, tugas paslon atau aparat keamanan untuk menyelesaiakan?,” tulis SBS menjawab pertanyaan wartawan melalui pesan WhatsApp, Selasa, 13 Oktober 2020 dini hari.  (fatur)

Comments
Loading...