Ayo “Rai Belu”, Mari Kita Tagih Janji Sahabat !!!

Oleh : Jeffry Leonardo Taolin

180

KUPANG,fokusnusatenggara.com– Pilkada Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), sisa menghitung hari dan ada di depan mata. Lima bulan menuju proses pencoblosan, bukan waktu yang lama untuk menentukan pemimpin baru di “Rai Belu” (sebutan khas Kabupaten Belu,red). Pilihanya cuman dua. Apakah mayoritas rakyat Belu akan mempertahankan sosok bupati yang ada sekarang atau cenderung memilih yang baru?. Jawabannya hanya bisa dilihat pada 9 Desember 2020 nanti.

Saat ini bahkan hampir pasti, proses suksesi kepemimpinan di Belu, daerah yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste itu, akan diikuti oleh dua paket. Ada paket petahana yakni Willybrodus Lay – JT Ose Luan, yang tetap menggunakan tagline “Sahabat” versus Agustinus Taolin – Aloysius Haleserens pendatang baru di gelanggang politik Kabupaten Belu, yang menggunakan tagline “Sehati”.

Menarik untuk melihat kualitas bibit, bebet dan bobot kedua pasangan bakal calon ini, sebagai referensi politik bagi rakyat Belu dalam menentukan pilihan. Saya tidak mengulas soal latar belakang dari kedua pasangan bakal calon ini. Sebab, sebagai warga Belu, saya, anda dan kalian tentu sudah mengenal kedua pasangan bakal calon ini, yang saat ini sedang gencar melakukan sosialisasi diri dan program.

Soal Willybrodus Lay, bupati petahana Kabupaten Balu tentu semua masyarakat sudah mengetahuinya dengan pasti. Sebelum dilantik menjadi Bupati Belu pada 17 Februari 2016 silam, sosok Willybrodus Lay yang saya kenal hanya sebagai seorang pebisnis yang bergerak di bidang konstruksi. Sedangkan pasangannya JT Ose Luan, saya kenal sebagai birokrat tulen dan senior dengan jabatan terakhir adalah Sekda Kabupaten Belu.

Sedangkan Agustinus Taolin, saya kenal sebagai sosok yang memulai karir sebagai seorang birokrat, yang kemudian beralih sebagai seorang profesional dengan latar belakang seorang dokter. Bahkan sosok Agustinus Taolin, bukan dokter biasa. Dirinya dikenal sebagai dokter dengan spesialisasi penyakit dalam. Bahkan oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia, Agus Taolin juga dikenal sebagai salah satu dokter Ahli  penyakit Hati terbaik yang dimiliki negeri ini.

Dengan memilih Alo Haleserens, sebagai Bakal Calon wakilnya, tentu bukan pilihan yang hadir dalam mimpi semalam. Pilihan ini, tentu atas pertimbangan bahwa sosok Alo Haleserens, sebagai birokrat murni di Kabupaten Malaka, sangat paham benar akan manejemen birokrasi dan pemerintahan.

Kembali soal topik tulisan ini. “Ayo Rai Belu, Mari Kita Tagih Janji Sahabat”. Tulisan ini saya angkat sebab saat ini, Willybrodus Lay dan JT Ose Luan, kembali maju bertarung dalam Pilkada Belu, sebagai pasangan petahana. Banyak analisa, prediksi dan anggapan bahwa untuk Pilkada kali ini, sulit mengalahkan calon petahana.

Tentu alasan ini sangat konyol tanpa basis dukungan data yang kualified. Hanya ada satu cara untuk mengalahkan petahana. Cara itu adalah menguji dia lewat janji politik yang dibuat saat maju pertama kali dan menang pada Pilkada 2015 lalu. Apabila janji itu ditepati, maka jalan mulus bagi dia untuk menjabat pada periode berikut. Tetapi kalau janji itu belum ditepati, maka rakyat Belu sudah harus berpikir untuk memilih calon lain yang datang dengan konsep dan program yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Saya masih ingat benar, pada tahun 2015 saat kampanye pasangan Willybrodus Lay dan JT Ose Luan. Saat itu, saya juga menulis soal beberapa program yang akan dilakukan dalam kampanye tersebut. Dalam data yang saya punya, ada dua hal yang dijanjikan oleh pasangan ini waktu itu. Pertama, soal pemenuhan kebutuhan air bersih bagi warga Kabupaten Belu, dan janji kedua adalah, peningkatan ekonomi masyarakat Kabupaten Belu lewat program budi daya porang atau dalam bahasa Belu disebut “Maek Bako”.

Untuk program Air Bersih, tentu bagi tim pemenangan “Sahabat” masih ingat dengan kasus Drum Bekas di Halituku? Kasus itu menjadi temuan Bawaslu Kabupaten Belu, sebab Paket Sahabat diduga melakukan kecurangan kampanye dengan membagikan drum bekas untuk menampung air yang menjadi temuan waktu itu. Soal ini bisa diakses di situs id.wikipedia (https://id.wikipedia.org/wiki/Willybrodus_Lay).

Pada saat itu, kondisi musim kemarau dan masyarakat Kabupaten Belu mengalami kesulitan soal pemenuhan kebutuhan air bersih. Strategi politik “Paket Sahabat” yakni memberikan bantuan air bersih melalui mobil tanki kepada masyarakat yang terdampak akan persoalan ini.  Maka munculnya janji kampanye yang diberikan “Paket Sahabat” waktu itu, apabila terpilih akan mengurus dengan baik soal air bersih sehingga masyarakat Kabupaten belu tidak mengalami kesulitan akan pemenuhan kebutuhan akan air bersih.

Janji ini yang sekarang harus ditagih.  Mengapa harus ditagih? Sebab ini janji seorang pemimpin, yang mana pemimpin itu yang dipegang adalah ucapannya. Apakah soal air bersih, Bupati Willybrodus Lay sudah tepati janji itu?.  Kalau sudah tepati, apakah ada pemerataan dan keadilan soal itu?. Bahkan kalau sudah ditepati, kenapa masih ada masyarakat teriak soal susahnya air untuk makan dan minum.

40, 907 suara masyarakat Kabupaten Belu, yang pada tahun 2015 mendaulat Paket Sahabat untuk menjadi Bupati dan Wakil Bupati Belu harus menagih janji soal ini. Ini janji politik, janji seorang pemimpin yang wajib hukumnya harus ditepati. Jangan ada kata ingkar, lupa atau belum. Masyarakat Kabupaten Belu tidak butuh itu. Mereka hanya butuh air bersih, bukan sekedar janji.

Bagi rakyat, urusan lain boleh diingkari. Tetapi tidak dengan soal urusan makan dan minum. Mereka akan cepat marah, tersinggung, bahkan berbalik tidak simpatik apabila urusan makan minum mereka hanya sebatas janji.

Selain air bersih, janji soal budi daya Porang atau “Maek Bako” juga menjadi hal yang penting. Saya awalnya sangat tertarik dengan konsep ini. Porang atau Maek Bako, bagi masyarakat Kabupaten Belu, dulunya hanya menjadi tanaman umbi liar yang tidak ada manfaatnya.

Tetapi “Angin Surga” itu datang di tahun 2015 lewat janji kampanye “Paket Sahabat”, yang akan menyulap Maek Bako menjadi tanaman bernilai ekonomis tinggi. Sungguh luar biasa!!!.

Bahkan tidak tangung-tanggung, uang negara milliaran rupiah dianggarkan untuk program ini, diawal kepemimpinan Willibrodus Lay dan JT Ose Luan hingga tahun ketiga. Namun, selama tiga tahun itu “Angin Surga” Maek Bako tak kunjung datang. Bahkan perkembangan terakhir program ini dari beberapa informasi berita, menjadi temuan dugaan korupsi yang sempat dilaporkan masyarakat kepada pihak Kepolisian Polres Belu, yang perkembangannya juga sejauh ini tanpa ada kejelasan.

Janji soal Maek Bako itu tentu sebuah janji nekad. Kenapa nekad? Sebab saya menduga janji itu tanpa sebuah kajian dari sisi ekonomis yang baik. Bagimana bisa program dieksekusi dengan biaya yang sangat tinggi tanpa berpikir akan dipasarkan kemana, siapa konsumennya, dan keuntungan yang didapat berapa, serta rakyat dapat apa?. Yang ada sekarang,  hanya sisa umbi Maek Bako tanpa nilai ekonomis, bahkan rakyat Kabupaten Belu, mungkin hanya ketiban “gatal-gatal” akibat program ini.

Ini mungkin dua janji kampanye yang bisa saya, anda, kita serta mayoritas seluruh rakyat Kabupaten Belu tagih kepada “Paket Sahabat”. Mengapa harus kita tagih, sebab kembali lagi, janji seorang pemimpin harus ditepati. Rakyat jangan mau dijadikan komuditas politik, bahkan sekedar “makan janji”. Pilihannya hanya dua. Tetap bertahan dengan pemimpin yang gemar membuat janji politik lagi, atau memilih untuk mengatakan tidak, sembari memilih pemimpin baru. ++++     

Oleh : Jeffry Leonardo Taolin, (Jurnalis www.fokusnusatenggara.com)

 

Comments
Loading...