SMP Karya Mandiri Raibasin Resmi Ijin Beroperasi

0 73

Atambua, fokusnusatenggara.com / 15 Juni 2019.
Bupati Belu Wily Lay, Sabtu(15/06), menyerahkan Surat Keputusan Bupati Belu tentang penetapan ijin operasional Sekolah Menengah Pertama (SMP) Karya Mandiri Raibasin Kepada Ketua Yayasan Karya Mandiri Raibasin – Agus Pinto. Penyerahan SK ini berlangsung di ruang kelas Sekolah Dasar Raibasin, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur (Tastim), Kabupaten Belu.

Dalam arahannya Bupat Willy Lay mengatakan agar para pengelolah lembaga pendidikan ini berusaha mendidik para siswa sesuai ketentuan yang diberikan Kementrian Pendidikan dan kebudayaan.
“ Saya harapkan para pengelolah, Yayasan maupun para guru bersinergi mendidik para siswa secara professional sesuai ketentuan yang ada. Harus sesuai kurikulum pendidikan dari kementrian Pendidikan dan Kebudayaan ,” kata Wily Lay.
Karena dengan adanya SMP Karya Mandiri ini jelas Bupati Wily Lay diharapkan dapat menampung sejumlah tamatan SD yang ada disekitar Desa Manleten dan Desa tetangga yang ada di kecamatan Tasifeto Timur ini.[sc name=”BACA”]

“ Saya apresiasi apa yang dirintis Yayasan dengan mendirikan sekolah ini. Adalah langkah tepat untuk mendekatkan pelayanan sehingga taman SD dari wilayah ini tidak jalan jauh untuk melanjutkan pendidikan SMP ditempat lain ,” kata Wily Lay.
Bupati Belu juga berterimakasih dan memberikan apresiasi kepada Ketua Yayasan Karya Mandiri, yang telah memperjuangkan pendidikan di Raibasin mulai dari pendidikan PAUD sampai SMP. “ Saya juga berterima kasih kepada Yayasan Karya Mandiri. Ini karena telah mendirikan lembaga pendidikan dari PAUD, SD dan sekarang SMP. BIsa saja dalam perkembangan nanti akan dibuka lagi SMA atau SMK Karya Mandiri ,” ujar Wily Lay.

Pada kesempatan tersebut Bupati Wily Lay juga meminta kepada para pengelolah baik Yayasan dan para guru untuk memasukan bahasa daerah Belu “ Tetun “ sebagai sebuah marta pelajaran dalam muatan lokal ( Mulok ).
“Saya berharap agar di sekolah ini, juga diajarkan Bahasa Tetun. Dimasukan dalam mata pelajaran muatan lokal. Karena fakta yang ada, mayoritas anak –anak di Belu hamper tidak bisa lagi berbahasa daerah. Kebanyakan sudah menggunakan bahasa Indonesia. Yang masih bisa berbahasa tetun kebanyak adalah orang tua ,” harap Wily Lay. ( Pah ).

Comments
Loading...