ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Luar Biasa, Kabupaten Kupang Jadi  Tuan Rumah Rakor Stunting

Reporter : ADMINEditor: ANTONIUS TAOLIN
  • Bagikan

OELAMASI,fokusnusatenggara.com- Kabupaten Kupang menjadi tuan rumah penyelenggaraan Rapat Koordinasi Percepatan Penurunan Stunting di Provinsi NTT. Rakor berlangsung di Kantor Bupati di Oelamasi, Senin, 20 November 2023 dibuka secara resmi oleh Penjabat Gubernur NTT, Ayodhia Kalake dan dihadiri para kepala daerah se-NTT.

Penjabat Gubernur Ayodhia Kalake dalam sambutannya mengatakan, Pemerintah pusat telah menetapkan target penurunan stunting pada tahun 2024 sebesar 14%. Pencapaian target tersebut harus didukung penuh oleh seluruh pemerintah daerah termasuk Pemerintah Provinsi NTT.

Menurut dia, saat ini Pemerintah Provinsi bersama Pemerintah Kabupaten/Kota terus berupaya keras dalam upaya percepatan penurunan stunting di Provinsi NTT.

“Berdasarkan laporan data e-PPGBM Kabupaten/Kota bahwa kondisi perkembangan stunting di NTT sejak tahun 2019 sampai 2023 terus terjadi penurunan yang cukup signifikan di mana tahun 2019 30% (91.120 anak); Tahun 2020 24,2% (90.602 anak); Tahun 2021 20,9 (81.354 anak); Tahun 2022 17,7% (77.338 anak) dan Tahun 2023 15,2% (63.804 anak) atau rata-rata penurunan stunting sebesar 3,4% selama 5 tahun terakhir”, kata Ayodhia Kalake.

Baca Juga :  Bupati Kupang Buka Forum Konsultasi Rancangan Publik RPMJ

beberapa hal penting yang harus diperhatikan jelas Ayodhia adalah data anak stunting yang telah di identifikasi masing-masing Kabupaten/Kota harus diberi intervensi secara tepat sasaran dan tepat waktu melalui pemberian makanan tambahan secara rutin.

“Diantaranya upaya pencegahan ibu hamil kekurangan energi kronis dapat memastikan asupan gizi yang cukup melalui PMT 90 hari secara rutin agar tidak melahirkan anak dengan berat badan lahir rendah dan stunting. Tingkatkan kualitas pengukuran dengan menggunakan alat terstandar dan penguatan SDM tenaga kesehatan (Nakes) yang sudah tersedia. Upaya preventif yang harus kita lakukan harus difokuskan pada balita berat badan tidak naik 1 kali (Balita “T”)”, jelas Ayodhia.

Baca Juga :  35 KK di Zona Bebas Kantongi Identitas Timor Leste

Data menunjukkan bahwa terdapat 102.534 anak tergolong Balita T (Data triwulan III tahun 2023).

“Ada 5 Kabupaten tertinggi yakni Kota Kupang 9.656 balita, Kabupaten Flores Timur 7.896 balita, TTS 7.474 balita, TTU 7.442 balita dan Sikka 6.653 balita. Upaya preventif mutlak dilakukan karena balita “T” ini akan memberikan kontribusi signifikan bagi peningkatan kasus stunting di NTT. Untuk itu, dibutuhkan langkah strategi konkrit dan upaya solutif bersama sebagai tindakan preventif kedepan ,” imbaunya.

Baca Juga :  Pemkab Kupang Siapkan Ambulance Jemput Pasien Covid-19

Status gizi anak di Provinsi NTT ungkap Kalake masih diperhadapkan dengan sejumlah permasalahan sekaligus tantangan yang harus diselesaikan secara bersama.

Persoalan tersebut antara lain, rendahnya pengetahuan keluarga tentang pola asuh anak dan pola konsumsi pangan keluarga yang bergizi dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal; masih terbatasnya ketersediaan air bersih untuk konsumsi dan sanitasi yang belum layak; status kurang gizi kronis maupun stunting dalam waktu yang lama dan tidak tertangani secara medis; jumlah anggota keluarga yang cukup tinggi mengakibatkan pemenuhan pangan dan gizi bagi anak terabaikan; persoalan administrasi kependudukan dan data kependudukan sebagai persyaratan untuk mengakses berbagai skema jaminan sosial seperti PKH, KIS, KIP, BPJS dan lain-lain.

  • Bagikan