Bakohumas Platform Suksesnya Hubungan Kerjasama Bilateral

0
395
Loading...

Kupang, fokusnusatenggara.com / 29 Agustus 2019

Bakohumas harus berperan menjadi ujung tombak menyuarakan dan menyebarkan informasi publik mengenai ketentuan hubungan kerja sama bilateral. Hal ini penting mengingat, Provinsi NTT merupakan wilayah bingkai NKRI yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste dan Australia.

“ Saya harapkan Bakohumas harus menjadi Platform suksesnya hubungan kerja sama bilateral khususnya dengan Negara tetangga. Harus terus mensosialisasikan kepada masyarakat untuk memiliki kekuatan dan semangat bela negara yang tinggi, terutama mereka yang mendiami daerah perbatasan antar Negara ,” kata kata Asisten III Setda Provinsi NTT, Cosmas Lana saat mewakili Gubernur dalam membuka kegiatan Bakohumas, di Hotel Papa Jhons Kupang (29/8).

Dia menyebutkan salah satu cara agar semangat ini dapat tumbuh, maka masyarakat harus dilibatkan dan diberdayakan dalam menjalin hubungan bilateral antar Negara. Saudara –saudara kita yang mendiami sepanjang garis perbatasan tapal batas Negara harus benar –benar diberdayakan untuk kerja sama bilateral ini ,” ujar Cosmas Lana.

Dalam hal hubungan bilateral antara Indonesia dan Negara Timor Leste jelas Cosmas Lana, Provinsi NTT sangat berperan dan juga sangat diuntungkan. Ini karena NTT berbatasan langsung dengan Negara bekas Provinsi Indonesia ke 27 ini.

“ Masyarakat NTT sangat diuntungkan. Namun juga dapat menjadi bumerang apabila mereka yang berbatasan langsung dengan Timor Leste ini, tidak mentaati batas – batas teritorial antar negara. Oleh karena itu saya minta agar Bakohumas bersama teman –teman otoritas Timor Leste harus sering memberikan sosialisasi terhadap masyarakat, khususnya yang berada langsung di daerah perbatasan,” sambung Cosmas Lana.

Diakhir sambutannya, mantan Kadis Koperasi NTT ini mengharapkan agar kegiatan ini dapat menjadi platform demi suksesnya hubungan kerjasama antar kedua negara ini. “ Saya harapkan agar kegiatan ini menjadi platform suksesnya hubungan bilateral kedua Negara ,” ujar Cosmas Lana.

Sementara itu, kepala Biro Humas dan Protokol Setda Prov NTT, Dr. Marius Jelamu dalam paparannya, mengatakan bahwa hubungan bilateral ini sudah terjadi sejak lama.

“Saat ini hubungan bilateral antara Indonesia dan Timor Leste sudah memasuki tahun ke tujuh. Ini karena pada tahun 2012 silam sudah dilakukan penandatanganan kerja sama 3 negara, yakni Indonesia, Timor Leste dan Australia, dengan skema segitiga pembangunan. Perjanjian ini meliputi bidang ekonomi, sosial budaya, pendidikan, kesehatan,olahraga dan juga pertahanan keamanan”, jelas Marius.

Dia menjelaskan mengenai kemungkinan jalur transportasi udara dari dan ke NTT yang menopang hubungan trilateral ini.Saat ini ada 4 bandara internasional di Pulau Timor, yakni di Bandara El Tari Kupang , NTT dan Oecusi, Dili, Suai, Timor Leste.

“ Jika tidak ada halangan, maka akhir tahun 2020 ini, Bandara Labuan Bajo akan menjadi Bandara internasional. Tentunya hal ini akan semakin memudahkan jalur penerbangan dari luar negeri ke NTT.
Bisa saja Darwin – Labuan Bajo – Dili, atau Singapura – Kupang – Oekusi, atau banyak pilihan lain. Tentunya hal ini sangat menguntungkan dari segi ekonomi ,” ujar Marius Djelamu.

Selain itu jelas Marius Djelamu, jalur laut juga turut memegang peran yang penting. Bulan September 2019 ini akan ada penandatanganan MOU dengan pihak Bank Dunia berkaitan dengan pembangunan Pelabuhan Tenau Kupang menjadi Pelabuhan internasional.

“ Tentunya dampak ini akan sangat baik bagi kita semua dalam menjaga keharmonisan hubungan trilateral ini. Apalagi dalam waktu dekat ini juga akan ada pelayaran internasional dari Maritaing Alor NTT menuju Dili ,” ungkap Marius Djelamu.

Sementara itu, Gusti Made Yuda yang mewakili pihak GM Angkasa Pura Kupang mengatakan Bandara El Tari Kupang siap mendukung kerjasama trilateral ini. ” Kami sangat mendukung kerja sama bilateral ini. Sudah ada perbangan dari Kupang – Dili, PP. Sesuai informasi dari pengusaha maskapai, akan membuka jalur Kupang, Oecusi, Dili, Suai PP. Jelasnya Pemprov bisa koordinasi dengan mereka ,” kata GUsti Made Yuda.
Sementara itu Abel do Santos dari Consulado Timor Leste Em Kupang mengatakan mendukung kerja sama bilateral kedua Negara yang digagas Pemprov NTT. Khusus angkutan udara diminta agar ditinjau kembali harga tiket pesawat Kupang – Dili, PP.

Saat pembukaan jalur ini bulan Mei 2019 lalu harga tiketnya Rp 650.000 atau setara $ 50 USD. Hanya seminggu saja bertahan kemudian naik tiga kali lipat. Sekarang sudah menjadi Rp 1, 7 Juta. Tentunya dengan kondisi harga seperti ini sangat mengganggu kerjasa sama bilateral ,” kata Abel do Santos.

Hadir pada kegiatan ini Perwakilan dari Consulado Republik Demokrat Timor Leste masing – masing Abel do Santos, Emilia de Jesus, George de Araujo dan Maria Kolin. Selain itu ada unsur Forkompinda dan 30 wartawan. ( Usif).


Reporter: Usif


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here