Rumah Layak Huni, Solusi Entaskan Kemiskinan Di NTT

Rumah Layak Huni, Solusi Entaskan Kemiskinan Di NTT

- in Kota Kupang
2479
0
Loading...

KUPANG,fokusnusatenggara.com- Rumah yang layak huni merupakan salah satu solusi untuk mengentaskan kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).  Sebab dari 14 variabel indikator kemiskinan, lima diantaranya terkait dengan persoalan pemukiman dan perumahan. Selain perumahan, persoalan infra struktur, pendidikan dan kesehatan juga menjadi faktor penentu tingkat kemiskinanan di suatu daerah.

Gubernur NTT, Frans Leburaya mengatakan hal tersebut saat membuka Rapat Koordinasi Pelaksanaan Pembangunan, Perumahan dan Keciptakaryaan, Tingkat Provinsi NTT, tahun 2018 di Ball Room Swiss Belin Cristal Hote Kupang, Rabu, 6 Juni 2018.

Menurutnya, indikator rumah layak huni antaranya harus berdinding tembok, laintainya tidak boleh tanah dan beratap seng. Namun kondisi ini belum sepenuhnya ada di NTT. Model perumahan di NTT masih beratap alang-alang, berdinding kayu dan berlantai tanah.

“Rumah harus dindingnya tembok, lantainya tidak boleh tanah, atapnya tidak boleh daun, sehingga kalau saudara-saudara kita yang tinggal di Sumba Tengah, rumahnya itu rumah panggung itu disebut miskin. Padahal biaya pembangunan rumah panggung itu lebih mahal dari rumah biasa,” unkapnya.

Ditambahkannya,  urusan perumahan, permukiman dan air bersih merupakan hal yang menarik karena bersentuhan langsung dengan masyarakat

“Kita tidak sekedar berkumpul menghabiskan anggaran tapi kita berkumpul untuk menyatukan komitmen, mencari solusi atau jalan keluar untuk pembuatan berbagai permasalahan yang saat ini tengah dihadapi masyarakat kita terutama di NTT,” tandas Lebu Raya kepada seluruh peserta Rakor.

Gubernur mengakui dari dulu berupaya mengatasi masalah perumahan di NTT karena memang angka perumahan yang tidak layak huni masih tinggi sehingga Ia pernah menyurati Menteri desa agar dana Desa itu bisa juga digunakan untuk bangun rumah.

“Karena kita semua bekerja untuk mengatasi kemiskinan di masyarakat, salah satunya perumahan. Dan syukur karena menteri Desa setuju dana itu bisa digunakan membangun rumah. Bagi saya urusan perumahan, pemukiman dan sanitasi itu multi sektor, multi steakholder, multi pendanaan, harus kita bangun bersama,” kata Lebu Raya.

 

“Kalau hanya mengharapkan dana APBD II dan APBD provinsi tidak kuat, harus ada dukungan APBN, bank dan kedutaan-kedutaan. Terimakasih kepada bank dunia, kedutaan Australia, BRI dan dirjen cipta karya yang memberikan dukungan kepada Pamsimas di NTT, karena tanpa dukungan ini kami tidak bisa seperti sekarang ini,” tambah Gubernur dua periode ini.

Lebih lanjut terkait masalah air bersih, kata Lebu Raya, berdasarkan hasil kajian NTT ini membutuhkan kira-kira 4000 embung sementara saat ini baru tersedia sekitar 500 embung, masih kurang 3500 embung yang perlu dibangun.

“Kalau satu tahun kita anggarkan 50 embung maka sekian puluh tahun baru Al semua terwujud. Untuk itu yang terpenting adalah bersinergi satu dengan yang lain. Partisipasi dan kegotongroyongan Masyarakat juga harus dijaga,” tegas Lebu Raya.

Pada kesempatan itu, Gubernur Lebu Raya juga mengukuhkan Kelompok Pengelolah Sistem Penyediaan Air Minum (KP SPAM) pedesaan, NTT. Asosiasi ini merupakan mitra yang terbentuk guna memaksimalkan peran pemerintah dalam mewujudkan ketersediaan air bersih yang baik dan layak untuk seluruh masyarakat, khususnya di NTT.

Sementara Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman NTT, Yulia Afra mengatatakan pihaknya akan memaksimalkan perannya untuk mendukung cita-cita ketersediaan air bagi masyarakat. Pihaknya juga akan melakukan Memorandum Of Understanding (MoU) dengan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk memanfaatkan sumur bor.

Dia juga mengaku, bahwa dalam kaitannya dengan pemenuhan memang belum maksimal selama ini. Masih kurang lebih 60 persen yang baru terselesaikan. Dia sangat optimis apabila semua stakeholders bersinergi, maka capaian kedepan pasti akan lebih baik.

“Ukuran kemiskinan memang salah satunya pada ketersediaan air. Apalagi, dengan kelangkaan air menyebabkan berbagai dampak termasuk sanitasi. Kedepan, kami sangat optimis semua pasti terealisasi,” ungkap Afra.(fatur)

Loading...

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *