Parade Sri Puan Songsong Maulid Nabi Muhamad SAW

0
128
Loading...

Kupang, fokusnusatenggara.com / 11 November 2019
Peringatan Hari Raya Maulid Nabi Muhamad SAW Tahun 2019 M/1441 H dirayakan di kota Kupang juga dalam bentuk Parade Sri Puan. Perayaan religi muslim yang bersifat tradisional ini adalah yang kelima kalinya di kota Kupang. Tahun pertama melibatkan juga utusan dari Provinsi Bangka Belitung karena ada nilai historisnya.
Kegiatan religi keagamaan ini dimulai kemarin 7 November sampai dengan hari puncak perayaan Maulid nabi 9 November 2019.
Sekretaris Yayasan Masjid Agung Al’Baitul Qadim Air Mata Kupang, Abdul Syukur Dapubeang menjelaskan, kegiatan religi keagamaan ini dimulai kemarin 8 November sampai dengan hari puncak perayaan Maulid nabi 9 November 2019.
“ Dimulai kemarin 7 November 2019 dengan parade Sri Puan yang diikuti 40 rombongan. Antaranya remaja masjid se-Kota Kupang, Majelis Talim, sejumlah sekolah Madrasah mulai dari Tingkat SMP dan SMA serta komunitas non muslim ,” kata Abdul Syukur Dapubeang kepada fokusnusatenggara.Com ( 8/11).

Parade Sri Puan ini dilepas secara resmi oleh Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Kupang, Epy Seran dari titik start Masjid Kampung Solor pukul 16.00 Wita dan diterima oleh Wali Kota Kupang, Jefry Riwu Kore di Masjid Agung Al’Baitul Qadim Air Mata.
“ Rombongan parade Sri Puan ini berjalan kaki dari Masjid Kampung Solor melewati Jalan Garuda, Jalan Cenderawasih, Terminal Lama Kota Kupang, Jembatan Selam, masuk Jalan Trikora lalu finish di halaman Masjid Agung Al’Baitul Qadim Kelurahan Air Mata ,” jelas Abdul Syukur Dapubeang.
Sri Puan ujar Abdul Syukur Dapubeang sebagai simbol pemersatu dan merekat rasa toleransi diantara umat beragama. “ Karena itu thema yang kami angkat dalam perayaan tahun ini adalah Bersatu dalam Keberagaman, dan Beragam dalam Persatuan ,” ujar Abdul Syukur Dapubeang.


Abdul Syukur Dapubeang mengatakan kebersamaan dan kegotongroyongan itu sudah diwariskan sejak zaman dahulu kala yang disimbolkan dengan Sri Puan.
“ Sri Puan itu adalah simbol pemersatu dalam hal bergotong royong, dalam hal kebersamaan untuk membangun, baik secara horizontal maupun vertikal, hubungan antara manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan Tuhan ,” katanya.
Dia menyebutkan tahun pertama perayaan religi keagamaan Sri Puan ini melibatkan juga utusan dari Provinsi Bangka karena ada nilai historisnya. “ Ini karena salah satu pemimpin mereka bernama Depati Amir Bahren dibuang oleh Belanda di Kota Kupang, tepatnya di Kelurahan Air Mata (dulu disebut Desa Air Mata,red),” kisah Abdul Syukur Dapubeang.
Selanjutnya, Depati Amir Bahren wafat Tahun 1887 yang dimakamkan di Kelurahan Air Mata, Kota Kupang. “ Dan pada tahun 2018 lalu oleh Presiden Joko Widodo telah menetapkan beliau menjadi Pahlawan Nasional ,” jelas Abdul Syukur Dapubeang.


Reporter: Usif


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here