Itulah SBS,,, Lalu?

0 987

BETUN,fokusnusatenggara.com- Selasa, 28 April 2020, hari masih pagi, maklum jam baru menunjukan pukul 08.30 Wita. Tapi, udara pagi itu begitu panas dan terik. Ternyata saya sadar sudah berada di ujung bulan April, artinya musim penghujan sudah hampir lewat, dan musim kemarau akan datang. Pagi itu saya berada di Haitimuk, desa kecil di Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tepatnya di Rumah Jabatan Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran, yang kerap disapa warganya dengan sebutan SBS.

Sebagai Jurnalis pemula, bahkan Id card saya dapat dibilang  masih basah dan beraroma tinta percetakan, saya ditugaskan oleh redaksi  pagi, itu untuk meliput kegiatan kunjungan kerja Bupati Malaka di Kecamatan Botin Leobele, kecamatan baru dimekarkan, yang sebelumnya bergabung dengan Kecamatan Sasitamean dan Malaka Timur.

Setelah motor saya parkir, saya langsung bergabung dengan rekan rekan jurnalis senior yang sudah sampai duluan. Selang beberapa saat kemudian, bupati SBS keluar lalu mangajak kami untuk jalan. Hampir satu jam perjalanan, kami akhirnya tiba di lokasi. Masyarakat antusias menyambut kedatangan Bupati SBS.

Seremonial penyambutan dilakukan seperti biasa, sapaan khas, pengalungan selendang hingga acara perkenalanan dan diskusi di Desa Babotin. Persoalan klasik tentang infra struktur jalan menjadi topik diskusi. Dalam kesempatan tersebut, bupati SBS mengatakan, pemerintah akan berupaya agar ruas jalan masuk Desa Babotin diaspal dari Simpang San’Ek, batas Desa Babotin dengan Desa Manulea (Kecamatan Sasitamean), menuju Kantor Desa Babotin.

“ Tahun depan jalan ini akan diaspal,” ungkap Alumnus Boston University, USA ini. Apa yang dikatakan SBS itu bukan tanpa dasar. Sebab tahun 2021, dirinya masih menentukan anggaran, kendati eksekutornya bupati baru, yang belum diketahui siapa kelak. Bahkan sambil berucap demikian, dirinya langsung memerintahkan beberapa staf teknis yang ikut bersamanya untuk mengukur jarak jalan yang akan diaspal.

Itulah SBS. Sikap responsif seorang pemimpin milenial yang patut diberi apresiasi. Apa yang dilihat, apa yang dirasakan, demi kepentingan umum bagi masyrakat, akan segera dieksekusi. Bagi pembenci SBS, tentu selalu bermain diksi berbalut narasi kebencian bahkan terkesan nyinyir. Tetapi Itulah SBS, semua kebencian itu tidak mengusik sikap dia. Dia terus bekerja, melayani, hingga nanti masa tugasnya berakhir.

Saya jadi ingat kutipan dari seorang penulis Indonesia, Fiersa Basari. “ Lukisan Terbaik Di Dunia Juga Memiliki Pembenci Dan Pengkritik. Jadi Pembenci Adalah Pengangum Yang Sedang Menyamar ”. lukisan saja demikian, apalagi seorang SBS. Tentu banyak kaum pembenci dia, yang mungkin karena iri, napsu bahkan karena bodoh untuk melihat secara rill capaian pembangunan yang dilakukan.

Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Puskesmas Sarina, guna melihat kesiapan infra struktur baik alat dan tenaga medis dalam menghadapi penyebaran Virus Corona ini. Pihak Puskesmas, mengeluhkan soal ketiadaan tenaga dokter yang bertugas. Oleh SBS keluhan itu akan direspon dengan baik, dengan mengirim tenaga dokter yang akan membantu di puskesmas tersebut.

Namun ada yang menarik saat SBS kunjungi puskesmas tersebut. Ternyata, disitu ada 11 tenaga perawat sukarela, yang bekerja tanpa pamrih dengan jaminan yang hampir tidak ada sama sekali. Bahkan ada yang sudah bekerja sukarela selama 9 tahun. Sekali lagi saya takjub dengan sikap respon SBS. Melihat kondisi tersebut, dirinya langsung memberi perintah per telepon kepada Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan Dan Pelatihan, Veronika Flora Fahik, agar 11 tenaga medis sukarela ini diangkat menjadi tenaga kontrak daerah, dan gajinya dibayar terhitung dari Januari 2020.

“ Saya minta kalian berdoa, dan terus bekerja agar SK segera keluar,” ungkap SBS dihadapan 11 orang tersebut, yang dibalas dengan tatapan haru, bahagia bahkan ada isak tangis  dari salah seorang bidan. Itulah SBS. Sikap responsif dalam menentukan nasib seseorang patut dihargai. Bagi pembenci, tentu akan menggiring opini bahwa ini pencitraan. Tetapi bagi 11 orang tersebut, ini adalah “Berkat Ditengah Wabah Corona”.

Tenaga medis sukarela di Botin Leobele, bukan pertama kali yang dapat apresiasi berupa SK Kontrak Daerah. Beberapa waktu lalu di Puskesmas Nurobo dan Io Kufeu, SBS juga melakukan hal yang sama bagi tenaga medis sukarela disana. Itulah SBS. Lalu apakah perbuatan ini patut dibenci? Disaat dia memperjuangan taraf hidup rakyatnya lalu dibalas dengan kebencian?

Puskesmas Sarina Botin Leobele, adalah tempat terakhir kunjungan hari itu. Rombongan kami kembali ke Haitimuk, untuk melanjutkan aktivitas masing-masing. Sebelum pulang kami hanya diberi pesan oleh bupati SBS, “ Hati –hati di jalan dan tetap jaga kesehatan,”.

Itulah SBS. Sikap dia yang responsif dalam pelayanan, terukur dalam bertindak dan berbicara selalu saja dianggap salah oleh para pembenci. Sulit kalau mengukur orang dengan rasa benci, semua yang kelihatan baik akan terus menjadi cacat di mata mereka. Beda sama pengkritik. Dia akan akan cerdas memberi kritik dengan solusi, ketimbang pembenci memberi kritik dengan hati yang kotor. Jika SBS dan Malaka selalu salah dimata kalian, coba pindahkan SBS dan Malaka di hati kalian. Itulah SBS, lalu bagaimana dengan saya, anda dan kita?

Reporter : Ferdhy Bria

Editor : Jeffry Taolin

 

Comments
Loading...