Berita Terkini Hari Ini, Kabar Akurat & Berimbang

“Liver” Saya Sangat Kenal Dokter Agus

0 77

KUPANG,fokusnusatenggara.com.com- Malam itu tepatnya 14 Februari 2020. Seperti biasa, setelah saya selesai mandi, saya coba membuka laptop untuk mencari inspirasi desain. Kebetulan hari itu ‘Valentine Day’ atau lebih umum dikenal hari kasih sayang. Terlintas pertama dalam benak saya, mencari gambar hati dengan format png.

Kemudian mesin telusur goggle pun saya gunakan untuk menemukan maksud pencarian saya.
Banyak pilihan gambar yang disajikan, kemudian mata saya saya fokus pada sebuah artikel soal “Bapak Muhammad Ilham, Perawat, Asisten Dan Pasien dr. Agustinus Taolin”.  Artikel ini terkoneksi dengan aplikasi instagram. Karena terkoneksi, saya harus membuka artikel itu melalui hand phone saya.

Kesimpulan pertama saya tentu Bapak Ilham ini pasti pasien dokter Agus Taolin. Kesimpulan kedua, Bapak Ilham ini bermasalah dengan organ hatinya. Wajar, sebab dokter Agus Taolin adalah dokter spesialis hati.

Tentu, artikel ini pasti tidak jauh dari urusan sakit dengan istilah rumit seperti liver, biopsi, hepatoma  dan sejenisnya, yang sangat awam bagi saya. Oh ya sebelum saya lupa, akun IG Bapak Ilham ini adalah Muhammad Ilham (@saidi___).

Saya kemudian mengikuti link artikel tersebut. “ Ya Tuhan, ternyata ini sebuah testimoni”, ungkap saya dalam hati. Saya membaca dua bagian tulisan tersebut. Bahkan secara berulang-ulang saya baca. Haru, bangga, dan takjub itulah kesan pertama saya usai membacanya.

Wajar saya merasa haru, sebab Bapak Ilham adalah satu dari masyarakat Indonesia yang terkena penyakit mematikan itu, yakni kanker hati atau liver. Bangga bahwa ada sosok dokter dengan keahlian mumpuni, mampu merawat dengan sabar dan tentu dengan hatinya yang tulus untuk kesembuhan Bapak Ilham. Takjub, sebab Bapak Ilham setelah sembuh, mampu menjadi motivator bagi seluruh penderita penyakit ini untuk terus berusaha sembuh dengan berbagai cara melalui pertolongan medis.

Setelah membaca semua testimoni tersebut, tanpa pikir panjang saya langsung DM (Delivery Message) atau mengirim pesan langsung secara pribadi. Dalam pesan saya itu, saya pertama menulis soal apresiasi akan semangat Bapak Ilham yang mau sembuh dari sakitnya. Lalu saya juga meminta ijin untuk melakukan wawancara soal testimoni tersebut, untuk dibuat dalam tulisan.

Saya harus menunggu lama baru direspon Bapak Ilham. DM saya dibalas sekitar empat hari. Saya kemudian menulis beberapa pertanyaan ke beliau. Dari sekian banyak pertanyaan standar perkenalan, Bapak Ilham hanya menjawab satu pertanyaan saya, soal sejauh apa dia mengenal dokter Agus Taolin. Dengan sedikit candaan dia menjawab singkat, “ Saya Mengenal dan merasakan kebaikan beliau sampai ke Liver eh,, hati saya”, sambil menambahkan emoj tertawa di akhir jawabannya.

Lalu kemudian, saya menunggu sambil membuka wall percakapan kami, disitu ada notifikasi Muhammad Ilham sedang menulis. Lama memang notif itu, dan saya yakin ini tulisan panjang terkait pertanyaan saya. Dan benar, selang beberapa menit masuk DM lagi. Kali ini Bapak Ilham menulis dengan panjang soal sakit yang diderita, sampai pada soal bagaimana dia ditangani oleh dokter Agus bersama dokter Ali Imran, Rinaldi Lesmana dan Prof Rino yang semuanya dokter spesialis ahli hati.

Menurut Bapak Ilham dalam hasil wawancaranya dengan saya, perkenalan pertama dengan dokter Agus pada Februari 2017, setelah dirinya dirawat di RS Mitra Keluarga Depok. Selama seminggu dirawat, Bapak Ilham diijinkan pulang dengan catatan segera konsul ke dokter KGEH.  Oleh dokter RS Mitra, dirinya diminta ke RS BMC Bogor, sebab ada dokter KGEH yang bagus. Selain memiliki dokter ahli hati terbaik, letak RS BMC Bogor juga kebetulan dekat dengan tempat tinggal bapak Ilham di Sentul.

Waktu pertama kontrol ke dokter Agus, saya pikir akan diobservasi dengan cermat dan teliti, lalu rawat jalan saja. Tetapi saya diminta untuk dirawat di RS CBM Bogor. Gelisah seketika melanda saya. Sambil tertawa saya lalu bertanya ke doker Agus. “dokter yang merawat Sutan Batugana?, wah dia saja lewat di tangan dokter,” dengan senyum khasnya dokter Agus menjawab, “ Beliau masuk sini sudah parah”. Sambil terus menceritakan soal riwayat sakit Almarhum Sutan batugana.

Usai kami diskusi soal penyakit saya, dokter Agus kemudian mengatakan bahwa besok akan dilakukan biopsi (prosedur medis untuk medeteksi ketidak normalan pada jaringan tubuh,red). Menurut dokter Agus,  kalau ini Abses (kumpulan nanah di hati akibat parasit,red) sudah saya selesaikan. Namun karena letak tumor hatinya yang sulit, saya disarankan Biopsi ke RSCM Jakarta dengan alat yang baik dan tim yang baik. Disana, saya lakukan biopsi sebanyak tiga kali dengan janjian setelah seminggu kembali ke dokter Agus untuk dilihat hasilnya.

Sebelum ke RCSM yang saya ingat persis, dokter Agus sempat tegas memberi pesan kepada saya, “ Nanti ke RSCM, ketemu dokter Rinaldi Lesmana, jangan yang lain, saya akan telephon dia!!!” membathin saya sejenak  sambil bertanya dalam hati, “apa serius ya?”. Soalnya pada biopsi satu hasilnya baik. Ternyata disitu saya tahu bahwa dokter Agus tidak yakin, makanya saya diminta ke RSCM untuk lebih detail dengan alat yang canggih.

Benar hasilnya. Saat saya kembali ke dokter Agus membawa hasil Biopsi yang kedua, saya divonis Hepatocellular Carcinoma (Kanker hati primer adalah kanker yang tumbuh atau berasal dari organ hati. Jenis kanker hati primer yang paling sering terjadi adalah hepatocellular carcinoma. Umumnya, jenis kanker ini terjadi akibat komplikasi penyakit hati, seperti sirosis atau penyakit radang hati atau hepatitis).

Saya lalu bertanya ke dokter Agus, “ Dok, Apakah ini kanker ya,?” jawab dokter Agus dengan serius. “ Ya ini Kanker untuk hati”. Kemudian dokter Agus memberi saran kepada saya, agar segera dirujuk ke RS lain dengan tim spesialis ahli hati yang mumpuni. Sebab kondisi RS BMC Bogor belum memiliki tim yang solid dan terbaik dalam kasus ini. Oleh dokter Agus, saya disarankan ke RS Premier Jatinegara, ketemu dokter Irsan, yang juga kolega terbaiknya sesama ahli hati. Ditangan tim ahli inilah (Dokter Agus cs), setelah 3 tahun  hati saya mulai membaik dan berangsur normal.

Inilah yang membuat saya berhutang budi kepada dokter Agus, beliau ingin saya ditangani oleh tim dan RS terbaik untuk kasus penyakit saya. “ Saya bangga sama dokter Agus, sebab beliau itu cerdas dan rendah hati,” ungkap Bapak Ilham lewat DM nya.

Suatu ketika pada tahun 2019 kalau tidak keliru, kisahnya, dirinya pernah mengantar sang istri ke RS BMC. Tanpa sengaja ketemu dokter Agus Taolin. Tanpa hiraukan antrian panjang di tempat prakteknya, saya diminta masuk bersama istri saya. Sampai dalam ruangan praktek, saya langsung di USG dengan teliti. Hasilnya, Allhamdulilah, kondisi hati saya baik. Beliau hanya berpesan agar saya menjaga kadar gula saya.

Dalam pertemuan tersebut, saya akhirnya mengetahui alasan dokter Agus Taolin waktu itu merujuk saya ke RSCM. “ Kenapa saya rujuk bapak ke rumah sakit lain? Sebab survival rate atau tingkat kelangsungan hidup untuk kasus bapak hanya 20 persen. Jadi solusinya harus ditangani dengan tim yang terbaik dan alat medis yang terbaik,” kata dokter Agus di hadapan saya dan istri. Mata saya berkaca. dokter Agus bukan hanya memperlakukan saya sebagai pasien, tapi dianggap sebagai bagian dari “hatinya”.

Alhamdulillah, saya saat ini sudah tiga tahun lolos dari penyakit mematikan tersebut, walau hidup tanpa empedu. Semua itu karena dokter Agus. Dia yang pertama menemukan penyakit saya, dan memberi jalan “hidup baru” kepada saya. Kalau mau jujur, saat itu ukuran tumor saya sudah 6,4 cm, dengan kondisi harapan hidup tidak ada. Tapi berkat dokter Agus, saya bisa hidup sampai sekarang.

Saya tidak akan pernah berhenti dan bosan memberi kesaksian akan sosok dokter Agus Taolin. Kepada sesama penderita kanker ataupun siapa saja. Saya selalu katakan. “ saya bersyukur dan bangga dengan dokter KGEH pertama menangani saya adalah dr. Agus Taolin, SpPD,KGEH, FINASIM”.

Bahkan dalam pertemuan dengan dokter Agus waktu terakhir kali, saya sempat melupakan topi kesayangan saya di ruangan beliau. Setelah pulang baru  saya sadar, topi saya lupa di ruangan beliau. “Topi saya boleh Lupa di ruangan beliau, tapi hati dan kebaikan beliau akan ada dalam diri saya,”.
Itulah testimoni Muhammad Ilham, pasien kanker hati yang sembuh ditangani oleh orang-orang terbaik negeri ini. Muhhamad Ilham, Pensiunan pegawai PT. Telkom. Dengan kondisi sehat di usianya yang pada 5 Februari lalu genap 62 tahun.

“ Jef, kalau sempat bertemu dokter Agus, sampaikan salam hormat saya kepada beliau,”. Saya berhutang budi kepada beliau. “Liver” saya sangat mengenal beliau dengan baik.

Oleh Jeffry Leonardo Taolin

Comments
Loading...