Jejak Kemanusiaan Yang Terluka

Jejak Kemanusiaan Yang Terluka

- in Humaniora
2595
0
Loading...

Catatan Refleksif Atas Tragedi Ledakan Bom Surabaya

Pengantar 

Tragedy kemanusiaan kembali terjadi pagi tadi (13/05). Ledakan bom di daerah Surabaya Jawa Timur terjadi di tiga lokasi gereja dalam waktu yang hampir bersamaan. Semua kita tentu merasa sedih dengan tragedy kemanusiaan ini. Pertama-tama bukan soal dari agama apa para korban ledakan bom, tetapi kesedihan kita bertolak dari rasa kemanusiaan. Para korban ledakan adalah sesama kita.

Tulisan sederhana ini, merupakan secuil catatan refleksif atas kejadian pagi tadi. Tulisan ini diolah kembali dari tulisan lama berjudul Senandung Pilu Kemanusiaaan, tetapi tentunya gema refleksifnya masih relevan dengan tragedy hari ini. Secara khusus, catatan refleksif ini saya persembahkan buat sesama kita para korban ledakan, keluarga korban dan semua kita pemerhati kemanusiaan.

Terorisme dan Jejak Kemanusiaan yang Terluka

Salah satu kejahatan terbesar terhadap kemanusiaan yang massif terjadi dewasa ini adalah terorisme. Isu seputar terorisme baik di level lokal maupun mondial merupakan momok yang menakutkan dan meresahkan umat manusia. Bagaimana tidak, pelbagai kasus serangan teroris pasca tragedy menara kembar WTC, New York menelan korban yang tidak sedikit.

Tercatat lebih dari 3.000 orang tewas dalam peristiwa penyerangan menara kembar WTC, 11 September 2001. Tiga tahun sesudahnya, di Spanyol, korban yang tewas dalam sebuah ledakan bom di tiga buah kareta bawah tanah sebanyak 191 orang.

Pada tanggal 7 Juli 2005 di Inggris, 56 orang tewas dalam sebuah ledakan bom di sebuah bus.

Di Casablanca, Maroko, korban tewas akibat ledakan bom tanggal 16 mei 2003 sebanyak 45 orang. 11 April 2004, 9 orang tewas akibat ledakan bom di kantor kepolisian Riyadh, Arab Saudi. Dan penyerangan atas perumahan warga asing di Riyadh pada 12 mei dan 8 november 2003 menelan korban 51 orang. Sementara itu, 14 orang lagi tercatat tewas pada tanggal 14 juni 2002 akibat ledakan bom di konsulat Amerika.

Selain itu, sebanyak 88 orang tewas akibat ledakan bom di kawasan wisata di semenanjung Sinai pada 22 juli 2005. Sementara 34 orang lainnya tewas dalam ledakan bom di hotel Hilton pada 7 oktober 2004. Ledakan bom juga terjadi di masjid kaum syiah di Karachi, Pakistan, 7 mei 2004 yang menewaskan 30 orang.

Kejadian serupa tidak hanya terjadi di Amerika dan Negara-negara timur tengah, tapi juga di negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Bom bali jilid I (12 oktober 2002) menewaskan lebih dari 200 orang.  Di jilid II bom bali (1 oktoober 2005) terjadi aksi bom bunuh diri, di mana sebulan sebelumnya terjadi bom bunuh diri di depan kedutaan besar Australia di Jakarta.

Aksi bom bunuh diri di Hotel JW Mariot Jakarta (5 agustus 2003) menewaskan 150 orang. Sementara di 17 juli 2009, masih di hotel JW Mariot dan ritz carlton, Kuningan Jakarta kembali terulang ledakan bom bunuh diri.

Data yang tersaji ini memang data lama, tetapi refleksi dan ingatan tentangnya akan selalu ada. Aksi terror sesudahnya boleh jadi masih saling berkaitan. Tentu masih banyak lagi kejadian serupa yang terjadi di tanah air dengan jumlah korban yang bervariasi.

Terorisme jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan. Perang terhadap terorisme tentu menjadi hal urgen demi kemanusiaan. Lantas dengan cara apa kita berperang melawan terorisme? Perang melawan terorisme, hemat saya akan melahirkan spiral kekerasan jika kita tidak mampu memahami persoalan terorisme secara baik.

Terorisme vs Hak Asasi Manusia

Terorisme, teroris dan terror sudah bukan hal asing bagi kita. Boleh dibilang sudah familiar karena lazim didengar. Namun apa sebenarnya arti istilah-istilah tersebut? Term terorisme secara etimologis berasal dari kata bahasa Latin, terrere yang artinya rasa takut yang luar biasa, menakutkan, mengerikan.

Dalam KBBI V, terror diartikan sebagai usaha menciptakan ketakutan dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Sementara orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, dengan tujuan politik dinamakan teroris.  Terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut dalam usaha mencapai tujuan (politik).

Paul Budi Kleden dalam artikelnya “Melahirkan dan Membesarkan Teroris” mengartikan terorisme sebagai satu gerakan tersembunyi (tertutup) yang menggunakan kekerasan untuk menakut-nakuti  dengan tujuan mewujudkan ideal seorang teroris. Sasarannya kebanyakan adalah warga sipil yang berada dibawah tanggungjawab suatu otoritas tertentu.

Secara historis, kata terror  mulai digunakan di Perancis pasca revolusi. Rezim yang berkuasa kala itu (1793-1794) dinamakan sebagai reign of terror karena gaya pemerintahannya yang sarat intimidasi dan cenderung represif dalam mencapai tujuan politisnya. Dan sejak tragedi menara kembar, WTC 11 September 2001 istilah ini menjadi populer.

Terorisme dalam perspektif korban dan kita (calon korban) merupakan momok yang serentak melahirkan kegelisahan eksistensial. Bagaimana tidak, mengikuti alur berpikir Jean Baudrilard, spirit terorisme adalah kematian. Konklusi dari logika terror adalah kematian dan instrumennya adalah kekerasan yang dilakukan secara tertutup.

Terorisme menjadikan kematian sebagai kunci permainannya. Dalam permainan kematian ini, hak hidup manusia dikonversi menjadi hak untuk mati. Hakikat manusia direduksi hingga titik nadir. Manusia tidak lagi diposisikan dalam koridor tujuan dan nilai pada dirinya, malah diinstrumentalisasikan. Manusia dijadikan sarana dan sasaran dalam permainan kematian ini.

Kegelisahan eksistensial (takut akan mati) ini cukup beralasan sebab mempertahankan hidup merupakan panggilan dasar setiap manusia. Tidak ada manusia yang ingin sesegera mungkin mengakhiri hidupnya. Di hadapan situasi batas sekalipun manusia akan selalu berusaha sejauh mampu mempertahankan hidupnya. Terorisme justu menawarkan sebaliknya.

Radikalitas terorisme tentu punya alasan. Bahwa dengan membunuh semakin banyak orang, surga terrbuka lebar untuknya boleh jadi salah satu dari sekian alasan lainnya. Beberapa pemikir kontemporer, Derrida misalnya, melihat ketidakadilan dalam proses globalisasi ssebagai sebab. Sementara menurut Habermas, patologi komunikasi globallah akar persoalan terorisme.

Bagi Baudrilard, terorisme dalam konteks global adalah konsekuensi logis dari hegemoni sistem global.  Atau secara sederhana dirumuskan sebagai kejayaan globalisasi yang berperang melawan dirinya sendiri. Kejayaan globalisasilah yang memungkinkan lahirnya terorisme. Benih-benih terorisme tersemai subur dalam globalisasi dan kejayaannya.

Kejayaan globalisasi terkandung di dalamnya hegemoni sistem global. Di dalam yang global kekuatan-kekuatan singularitas terdesak dan tidak mendapat tempat sementara jalan pikiran tunggal (single track thinking) globalitas mendominasi sistem global. Homogenisasi kekuatan global mendapat legitimasinya di sini.

Keterdesakan singularitas dalam hegemoni sistem global melahirkan kekuatan heterogen sebagai reaksi terhadap pelbagai kebudayaan singular yang tenggelam dalam kejayaan globalisasi. Terorisme  sebagai kekuatan antagonis dan destruktif ini dalam kacamata Baudrilard dilihat sebagai salah satu bentuk penolakan berwajah buas dalam menentang hegemoni sistem global.

Dalam konteks Indonesia, meminjam pemikiran Baudrilard, mungkinkah terorisme di negeri ini lahir karena adanya hegemoni sistem pemerintahan atas kekuatan singularitas terrtentu? Fenomena yang terjadi adalah sasaran terror adalah tempat-tempat ibadah dan orang-orang dari golongan agama tertentu. Apa mungkin ada hegemoni Negara atas agama?

Situasi ini kian runyam manakala gelombang penghayatan umat beragama yang cenderung konservatif dan ekslusif. Penghayatan yang demikian bukan tidak mungkin mengkondisikan lahirnya tindakan intoleran dan kekerasan atas nama agama. Sangat boleh jadi terorisme di Indonesia lahir dari situasi yang terkondisi seperti ini.

Awalnya saya berpikir bahwa mengklaim agama dan lalu mendiskreditkan agama tertentu sebagai penyebab dan bahkan mengidentikannya dengan terorisme adalah suatu cara berpikir picik dan sentimental serta menyepelekan persoalan. Jelas-jelas terror bertentangan dengan rasionalitas agama manapun. Akan tetapi itulah yang terjadi di negeri ini.

Tempat-tempat ibadah justru kerap dipakai untuk menyebarkan narasi radikalisme. Gelombang politik identitas atas nama agama sungguh terasa gaungnya. Pemimpin dipilih bukan dengan pertimbangan kualitas kepemimpinan dan kinerjanya tetapi karena pertimbangan agama. Dan justru atas nama Allah aksi terror dilancarkan. Menyedihkan memang.

Agama merupakan sebuah elemen yang sangat sentral dalam penciptaan konflik, dalam hal ini melalui aksi teror dan radikal dari sekelompok agama tertentu. Maksudnya ialah bahwa bukan inti ajarannya yang mengajarkan konflik tetapi penghayatan pemeluknya yang ekslusif dan radikallah yang berpotensi menciptakan konflik. Terorisme salah satu contohnya.

Sejatinya agama mengajarkan kehidupan, bagaimana membangun dan menjaga kelangsungan hidup yang humanis bukan represif, destruktif dan cenderung agitatif. Agama, sebagaimana spirit deklarasi universal HAM adalah mengedepankan kehidupan. Menjunjung tinggi martabat setiap manusia, tanpa dibedakan dari suku, agama, ras dan atau golongan mana seseorang berasal.

Menyandingkan persoalan terorisme dan spirit HAM, jelas kontradiktif. Kematian dalam logika terror layak diperjuangkan sementara paham HAM memperjuangkan hak hidup. Dalam kacamata HAM terror jelas merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan (crime against humanity).

Hak asasi manusia mendasarkan legitimitasnya pada universalitas nilai-nilai kemanusiaan. Dalam perspektif HAM, setiap manusia adalah tujuan dalam dirinya dan membutuhkan pengakuan dari yang lain dan dari dirinya. Dengannya, pelecehan terhadap martabat manusia dan menghilangkan hak hidup seseorang tidak pernah dapat dibenarkan.

Penutup 

Dihadapan fenomen pincang kemanusiaan seperti ini apa yang mesti kita lakukan? Kita tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan ini. Adalah sebuah kemendesakan memerangi fenomena pincang kemanusiaan ini. Bangsa Indonesia ditakdirkan sebagai sebuah bangsa dengan corak masyarakat yang plural (pluralistic society).

Pluralitas ini sejak dahulu telah dipersepsikan dan dikonsepsikan oleh para pendiri bangsa sebagai kekuatan. Motto negara kita  Bhinneka Tunggal Ika menjadi kristalisasi pemersatu bangsa. Itu merupakan bukti kemanunggalan kita sebagai sebuah bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. meski berbeda-beda, kita tetap satu dalam keindonesiaan.

Hans Kung, seorang pemrakarsa proyek ethos mondial mengatakan bahwa tidak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian antar agama-agama, dan tidak ada perdamaian antar agama-agama tanpa dialog antar-agama. Hal ini mengindikasikan betapa pentingnya dialog antar-agama dihadapan konflik dan Ekslusivisme mestinya ditanggalkan.

Dialog antar agama hemat saya, jika intens dilakukan dengan melibatkan banyak pihak khususnya kaum muda bakal membawa pembaruan dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air di Indonesia. kaum muda Indonesia perlu terus diberdayakan agar tidak terjerembab dalam paham-paham radikalis dan memilih bergabung menjadi pelaku terror.

Baldus Sae – Mahasiswa Filsafat UNWIRA, Kupang

 

Loading...

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *