Jefri Riwu Kore : Kalau Saya Terpilih, Saya Tidak Akan Seperti Jonas

  • Bagikan

KUPANG,fokusnusatenggara.com- Pilkada Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, akan dihelat secara serentak pada Februari 2017 mendatang. Saat ini, tahapan pelakasaan sudah memasuki tahap pemeriksaan kesehatan bakal calon. Sejauh ini sudah ada empat paket yang mendaftar, yakni calon petahana, Jonas Salen-Niko Frans (Sahabat), Jefri Riwu Kore – Herman Man (FirmanMu), dari jalur parpol, Viktor Matheos Mesakh – Viktor Manbait (Viktori) dan Habde Adrianus Dami – Ferdinandus Lehot (Adil) dari jalur perseorangan.

P_20160827_110456Jumat, 23 September 2016, Calon Walikota Kupang dari Paket FirmanMu, Jefri Riwu Kore, dalam sebuah acara diskusi dengan beberapa rekan wartawan di Restoran Suba Suka, menceritrakan beberapa pemikiran terkait visi dan misi kepemimpinannya, apabila dirinya terpilih menjadi Waliota Kupang.

Dalam kesempatan diskusi terseut, dirinya menegaskan bahwa tidak akan mengikuti gaya kepemimpinan Jonas Salean, Walikota Kupang sekarang ini. Berikut hasil wawancara lengkap dengan Jefri Riwu Kore, kepada Raymundus Yabe, reporter fokusnusatenggara.com,

Baca Juga :  Hujan Duka Bulan Juni

fokusnusatenggara.com : Bisa jelaskan maksud pernyataan anda bahwa apabila terpilih nanti , anda tidak akan mengikuti gaya kepemimpinan Jonas Salean?

Jefri Riwu Kore : Ya sudah pasti saya tidak akan ikuti gayanya Jonas Salean. Sebab saya juga memiliki gaya kepemimpinan sendiri, dengan kemampuan yang berlandaskan pada visi dan misi yang saya dan pak Herman miliki. Tentu akan berbeda kalau kami terpilih nanti.

fokusnusatenggara.com : Kongkritnya, gaya kepemimpinan mana yang anda maksudkan?

Jefri Riwu Kore : Kita tahu bahwa Kota Kupang ini adalah barometernya NTT. Memimpin Kota Kupang, harus bisa ciptakan pemerintahan yang bebas dari sistim praktek KKN. Untuk Nepotisme misalnya, sudah menjadi rahasia umum, bahwa saat ini penempatan pejabat di Kota Kupang, sarat dengan nepotisme bagi kalangan keluarga walikota saat ini. Dan ini akan kita benahi apabila paket kami menang, kami tidak akan lakukan hal itu. Sebab penempatan pejabat itu sudah ada aturannya. Bukan karena ada ikatan kekeluargaan lalu semua pejabat diisi oleh keluarga. Betul bahwa pejabat yang duduk tersebut sudah melalui semua proses yang ada. Namun secara etika, kepala daerah harus bisa mencermati dan melihat siapa saja calon pejabat yang ditempatkan pada posisi tersebut. Apa memiliki ikatan kekeluargaan atau tidak, hal ini dapat memicu konflik kepentingan dalam penataan sistim birokrasi yang ada. Bagaimana saya mau menerapkan disiplin aparatur, apabila pejabat yang bersangkutan ada hubungan sanak family dengan saya.

fokusnusatenggara.com : Kongkritnya soal konflik kepentingan itu seperti apa?

Jefri Riwu Kore : Jelas akan ada. Bagaimana bisa, saya terapkan disiplin pegawai, kalai hal tersebut dibenturkan dengan keluarga saya. Sebagai contoh, pernah saya baca bahwa salah satu pejabat di Dinas PU, yang merupakan keponakan walikota saat ini, ditangkap polisi karena berjudi di kantor. Tentu ini akan menjadi dilema bagi walikota dalam menerapkan disiplin pegawai. Di satu pihak ada aturan yang wajib ditegakan. Tapi dilain pihak saya harus berhadapan dengan sisi manusia saya bahwa itu adalah keluarga. Tentu ini dilematis. Tapi sebagai walikota kita bukan walikota yang miliknya keluarga, melainkan walikota seluruh rakyat Kota Kupang. Tentu aturan harus ditegakan. Kalau saya dalam posisi Jonas Salean, pejabat tersebut saya akan non aktifkan dari jabatannya, kemudia saya akan dorong persoalan hukum biar hukum yang membuktikan. Bukan saya menempatkan diri sebagai penyelamat yang bersangutan.

Fokusnusatenggara.com : Kita ke persoalan lain Pa Jefri. Kota Kupang alami krisis air bersih saat ini. Seluruh masyarakat keluhkan hal ini. Apabila anda terpilih, bagaimana anta mengatasi persoalan ini?

  • Bagikan