Hujan Duka Bulan Juni

0
464
Loading...

Cerpen
Oleh : Rio dan Frido.
(Unu dan Lala, Mereka bukan lagi dua melainkan satu)
Berawal dari saling kenalan via telepon seluler, hubungan mereka berlanjut sebagai sepasang kekasih. Saat itu, Unu merantau di Papua sedang Lala bekerja di Kupang. Entah malaikat cinta bekerja sedemikian rupa, akhirnya Unu memutuskan diri mengakhiri status perantaunya di tanah Papua dan kembali mencari hidup di Timor. Unu kembali ke tanah Timor dengan cita dan cinta yang begitu dalam.

Setibanya di Timor, kisah cinta kedua insan muda ini berlanjut. Dan tentunya dalam kisah, bukan hanya manisnya saja, ada juga pahit turut memberi rasa dalam hubungan mereka. Mereka lalu sepakat mengakhiri hubungan mereka.

Namun memang benar, cinta selalu menemukan jalan pulang. Tuhan ciptakan Lala dari tulang rusuk Unu. Setelah lebih dari dua tahun putus, berawal lagi dari komunikasi diam-diam, akhirnya “Wini punya cerita” kembali getarkan keluarga dan sahabat kenalan melalui Facebook.

Mereka telah kembali menjalin hubungan asmara, cinta lama bersemi kembali setelah sekian lama gugur. Wini jadi saksi bisu bagaimana dua insan muda ini merajut kembali cinta mereka. Juni jadikan ini sebagai kenangan abadi di facebook.

Mereka semakin dewasa dalam menjalin hubungan. Saat yang pahit mereka cicipi, mereka jadikan itu sebagai suatu pembelajaran sehingga tak ada lagi keputusan konyol yang mereka ambil, putus misalnya. Mereka mulai saling belajar satu sama lain. Saling mengenal. Saling menerima. Saling berbagi. Mereka belajar tentang cinta.

Waktu berputar sesuai irama. Hingga saat kembali lagi di Juni, tahun 2018, keluarga mendapat informasi bahwa Lala telah hamil di luar nikah. Keluarga menyiasati agar sesegera mungkin mereka meresmikan hubungan mereka ke jenjang penikahan. Rencana awal, bulan November sebelum masa Advent, harusnya mereka sudah menerima sakramen pernikahan.

Hanya saja harus ditunda karena pihak keluarga perempuan sedang menyambut pentahbisan imam salah satu puteranya di serikat CSE di Bogor pada 1 November 2018, yang syukurannya dilaksanakan di kampung halamannya. Namun bagaimana pun,mereka harus diikat secara resmi. Sebelum sakramen, adat terlebih dahulu mengikat mereka di November. Kedua belah pihak keluarga bertemu. Pihak laki-laki datang mengetuk pintu pihak perempuan. Beberapa tahap adat dilakukan hingga secara adat,mereka telah resmi diikat, disatukan. Dengan janji bahwa bulan Juni, mereka harus menerima sakramen pernikahan.

2019 tiba, turut hadir seorang putri mungil yang seketika menobatkan Unu dan Lala sebagai orang tua, tepatnya 21 Januari 2019. Dunia mereka semakin dipenuhi kebahagiaan, entah itu dari tawa ataupun tangis si putri mungil itu.

Mereka lalu mendengar kabar, saudara Unu akan ditahbis menjadi Imam melalui serikat OFM, di Papua, pada 30 Mei nanti. Segala persiapan dilakukan. Penuh semangat dan kebahagian dari pihak keluarga. Unu sampai tidak memikirkan lagi sakramen yang harus ia terima. Tunda saja ke Agustus. Semuanya fokus untuk Imam baru saja. Mungkin, kalau ada yang berasal dari luar Nusa Tenggara Timur, akan merasa aneh. Tapi hal ini sangat wajar bagi masyarakat NTT, khususnya Timor. Kami akan merasa sangat bahagia bila ada salah satu anggota keluarga yang menjadi Imam baru. Segala persiapan kami fokuskan untuk syukuran. Hal-hal besar seperti pernikahan atau lain sebagainya, harus ditunda. Imam baru lebih penting. Begitulah kami, Timor.

Dalam masa persiapan syukuran imam baru, Unu akhirnya jatuh sakit. Kata dokter, Unu menderita magh. Namun Unu masih mencoba kuat. Berbagai proses pengobatan coba ia lakukan. Hingga Mei, saat ia mengantar ayah kandungnya ke bandara (saat itu, ayahnya jadi perwakilan orang tua bagi imam baru), Unu merasakan sesuatu yang lain. Unu berbisik lirih pada ayahnya dalam bahasa dawan, “mungkin nanti ayah pulang, ayah tidak dapat saya lagi”. Tapi bahasa itu tidak dimengerti ayahnya. Kalau pun mengerti, dia coba menguatkan unu.

Pesawat lepas landas. Unu kembali ke rumah. Bertemu kembali Lala dan juga putri mungilnya. Ada pembahasan serius di kamar mereka.Dan pembahasan itu berakhir saat keduanya memutuskan untuk untuk kembali ke kampung masing-masing.
Mereka memilih melakukan proses penyembuhan menggunakan obat kampung. Atau tepatnya, karena ada si putri mungil, mereka tidak ingin sakitnya tertular. Mereka berpikir kalau Unu atau Lala sakit, siapa yang mengurus si putri?

Unu kemudian mengantar Lala dan putri mungil itu ke orang tua Lala. Setelah itu, Unu kembali ke kampungnya. Mereka saling merindu. Perjuangan untuk sembuh sambil merindu ternyata berat sekali. Dan di 10 Juni 2019, Unu menghembuskan nafas terakhirnya. Saya tidak bisa mendeskripsikan perasaan Lala waktu mendengar kabar itu, belum lagi saat ia memandang wajah mungil yang belum genap 5 bulan saat itu.
Empat malam setelah penguburan Unu, keluarga Unu mengantar kembali Lala ke rumah orang tuanya.

Dengan pikiran dan perasaan yang menderita, Lala semakin drop dan melemah. Baginya hidupnya telah mati. Separuh jiwanya Semuanya pergi. Lala hanyalah tubuh kosong tanpa rasa. Pernah dia mengaku, entah jujur atau khayal, jiwa Unu datang memberitahu bahwa 10 Juli 2019, Unu datang jemput Lala. tentu saja panik.

Segala macam proses penyembuhan mereka upayakan. Memang di tanggal 10 itu, Lala masih ada. Tapi setelahnya, Rabu, 24 Juli 2019, Lala pun menghembuskan nafas terakhirnya. Menyusul sang belahan jiwa yang lebih dulu berpulang ke pangkuan sang Ilahi.
Meninggalkan si putri mungil yang baru berusia 6 bulan 3 hari.

(Catatan : Redaksi Menerima Tulisan pembaca dalam Bentuk Puisi, Cerpen dan Opini. redaksi Tidak Bertanggung Jawab atas Kesamaan Kisah, Nama dan Alamat) 


Reporter: Admin


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here