Disaat Marthen Dira Tome Dandani Sabu Menjadi Seksi

0
292

KUPANG,fokusnusatenggara.com- Banyak daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang saat ini mulai iri dengan kemajuan Kabupaten Sabu Raijua. Bagiamana tidak, baru delapan tahun menjadi daerah otonomi baru, Kabupaten yang memiliki dua pulau besar tersebut (Sabu dan Raijua), bergeliat dalam pembangunan. Hasilnya, Sabu Raijua diprediksi akan menjadi daerah yang mandiri dalam struktur pembangunan ekonomi 10 tahun yang akan datang.

MatadeIbarat wanita cantik, di tangan Marthen Dira Tome, Bupati Sabu Raijua,  daerah ini didandani sedemikian rupa menjadi sosok wanita seksi, yang mengundang semua pelaku bisnis untuk datang dan menikmati potensi alam, yang dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang benilai ekonomis tinggi.

Dulu sebelum menjadi daerah otonomi baru, ‘keperawanan’ Sabu Raijua,  kurang dilirik untuk dikembangkan menjadi sebuah daerah yang ‘seksi’.  Sabu hanya dikenal sebagai bagian dari daerah administratif Kabupaten Kupang –NTT saat itu, selebihnya tidak.

Bicara soal potensi pariwisata, destiniasi budaya dan megalitik, tentu sebagai masyarakat NTT kita harus arahkan kiblat sekarang ini menuju Sabu Raijua. Kelleba Maja misalnya, destinasi megalitik yang menyuguhkan pemandangan bebatuan alam, memiliki kisah sejarah panjang.

Kelleba Maja, yang terletak di Kecamatan Liae, dianggap masyarakat sebagai daerah yang bertuan. Gugusan pilar berbatu merah marun, yang terlihat cantik akibat erosi alam, bagi masyarakatnya dianggap sebagai daerah yang sakaral. Sebab disitu, bisasanya dalam setahun sekali mesayarakat melakukan ritual adat, sebagai bentuk penghormatan terhadap Dewa Maja, yang diyakini sebagai dewa pembawa kesuburan bagi masyarakat setempat.

“ Kelleba Maja sampai saat ini tetap digunakan masyarakat Sabu Raijua untuk lakukan upacara adat. Bahkan masyarakat meyakini, Kelleba Maja memiliki kisah sejarah panjang dengan Maha Pati Gaja Mada, selaku penguasa Majapahit dalam era kerajaan nusantara,” ungkap Marthen Dira Tome, Bupati Sabu Raijua, kepada puluhan Wartawan Media Online, yang melakukan kunjungan ke Sabu Raijua pada 17 Agustus 2016.

Selain Kelleba Maja, di Sabu Raijua, anda bisa temukan destinasi lain seperti, Gua Liemadira di Seba, Pantai Napae di Kecamatan Sabu Barat, Pantai Bollow di Sabu Timur, Kampung adat Namata, bahkan Istana Teni Hawu.

 

Ditangan MDT Sabu Miliki 2 Pabrik Olahan Hasil Laut

Untuk ukuran usia, Sabu Raijua memang masih belia. Tapi soal inovasi, sabar dulu. Kalau ada pepatah “ Belajarlah Sampai Negeri Cina”,  maka kita harus katakan apabila ingin mengolah potensi laut “Belajarlah di Sabu Raijua”.

Nusa Tenggara Timur yang merupakan provinsi kepulauan, diharapkan semangat dan konsep pembangunan ekonomi harus berbasis laut. Banyak yang bisa diexplore di laut, ketimbang kita harus sibuk dengan mengembalikan semangat provinsi ternak, dan mengejar ketahanan pagan. Ketahanan pangan memang penting, tapi tidak salah juga apabila kita mencoba hal baru dari laut.

Marthen Dira Tome mampu membaca peluang itu. Laut diexplore secara sporadis, dengan mengembangan seluruh potensi yang ada. Dalam kepemimpinan Dira Tome, Sabu kini memiliki 2 pabrik besar pengelolaan hasil laut yakni,  Pabrik Garam Nataga dan Pabrik Pengelolaan Rumput Laut.

Untuk pabrik garam Nataga, saat ini sudah merambah pangsa pasar nasional.  Bahkan beberapa daerah besar di Indonesia seperti Surabaya, Makasar, Pontianak, Ambon dan Jayapura, Garam Nataga bisa anda nikmati disana.

Menurut Dira Tome, seperti yang dikutip dari tempo.co, dalam acara pengiriman perdana Garam Nataga ke Surabaya dirinya mengatakan,  Indonesia, khususnya Sabu Raijua, mempunyai potensi garam yang sangat luar biasa. Karena itu, dia mempertanyakan kebijakan pemerintah yang masih mengimpor garam dari India dan Cina untuk memenuhi kebutuhan garam nasional. Indonesia masih defisit garam sebanyak 2,6 juta ton per tahun. “Di Sabu ada garam yang tidak kalah dengan garam impor,” katanya.

Dia meyakini produksi Garam Nataga ini mampu memenuhi kebutuhan garam di Indonesia. Karena itu, dia berharap masyarakat bisa terus mengembangkan potensi garam ini walaupun diakuinya garam Sabu baru dilirik oleh investor nasional.

Untuk pabrik pengolahan rumput laut, Sabu Raijua mendapat pujian dari Gubernur NTT, Frans Leburaya. Bahkan dalam acara peresmian yang dilakukan pada 13 Agustus 2016 lalu, Leburaya secara terbuka memberi apresiasi kepada Marthen Dira Tome.

“Sabu Raijua telah menunjukkan diri bisa dan mampu melakukan berbagai inovasi dan terobosan-terobosan baru yang kadang sering dianggap sebelah mata oleh orang lain. Saya selalu tekankan pada para Kadis supaya jangan takut untuk melakukan terobosan -terobosan sehingga bisa menciptakan peluang baru,” kata Lebu Raya. Seperti yang dikutip dari seputar-ntt.com.

 

Setelah Nataga dan Rumput Laut, OASA Kini Hadir

Setelah membangun dua pabrik pengolahan hasil laut yakni Garam Nataga dan Rumput Laut, Dira Tome lantas tidak puas begitu saja. Disaat puncak perayaan HUT RI Ke 71, dirinya langsung meluncurkan pembukaan pabrik Air Minum Dalam Kemasan OASA yang memiliki arti (Orang Sabu Juga Bisa).

Kehadiran OASA, tentu menjadi cita –cita mulia Dira Tome. Sabu yang dulu sangat dikenal dengan daerah yang krisis akan air bersih. Bahkan untuk konsumsi air bersih, masyarakat harus menempuh jarak hingga puluhan kilo meter. Namun dengan kehadiran OASA,  Sabu kini patut berbangga.

Menurut Dira Tome,  kehadiran OASA sebagai ikon baru Sabu Raijua, diharapkan mampu menciptakan lapagan kerja baru bagi masyarakat. Dengan adanya lapangan kerja baru, akan bermuara pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan, serta mampu mengurangi angka kemiskinan di Sabu Raijua dan NTT.

“Saya punya prinsip tidak boleh ada kemiskinan di Sabu Raijua, karena kemiskinan bukanlah julukan yang baik. Oleh karena itu, perlu ada solusi dengan cara-cara yang cerdas. Oasa salah satunya. Sabu Raijua harus bisa melakukan jauh lebih baik dari apa yang dipikirkan,” ujar Dira Tome, pada saat peluncuran Pabrik OASA, 17 Agustus 2016.

 

Dari Sarai, ‘Sang Rajawali’ Menuju NTT 1

Keberhasilan Marthen Dira Tome dalam mengubah Sabu Raijua (Sarai), patut diberikan apresiasi oleh seluruh masyarakat NTT. ‘Sang Rajawali dari Negeri Para Dewa’, begitu bisa Dira Tome disapa, sekarang menjadi pembicaraan banyak khalayak masyarakat di NTT. Bahkan nama Dira Tome sering menjadi pembicaraan para netizen di media sosial, sebagai sosok yang layak dan mampu untuk menjadi Gubernur NTT periode mendatang.

Popularitas Dira Tome ini bukan isapan jempol belaka. Dalam hasil survei bakal calon Gubernur Nusa Tenggara Timur – NTT, yang dilakukan lembaga Survei Central Independen Nasional (CIN), nama Marthen Dira Tome unggul atas calon lainnya, sepeti Ibrahim Medah dan Esthon Foenay.

Berdasatkan hasil survei tersebut, Marthen Dira Tome unggul 21,07 persen, dan berada di urutan pertama, menyusul cagub Ibrahim Agustinus Medah, 21, 04 persen, terpaut tipis 0,3 persen.

Data yang diterima media ini, Rabu, 17 Agustus 2016 menyebutkan, ada sekitar belasan figur di NTT yang disurvei, karena dianggap sosok yang pantas maju bertarung di Puilgub NTT masa bhakti 2018-2023.

Berikut hasil lengkap survey CNI, Marthen Dira Tome (Bupati Sabu Raijua) meraih 21,07 persen, menyusul Ibrahim Medah yang mendapat 21,04 persen, Beny Kabur Harman, 9,8 persen, Esthon Foenay, 8,5 persen.

Adapun Lusia Lebu Raya di posisi kelima dengan perolehan 5,1 persen, Chris Rotok, cawagub dari Partai Gerindra, pasangan Esthon Foenay, mendapat 4,2 persen. Sementara Benny Litelnoni yang juga wagub NTT petahana meraih 3,7 persen, menyusul Paul Liyanto 3,6 persen, berikut Umbu Sapi Pateduk (Bupati Sumba Tengah) 2,1 persen, selanjutnya Frans Salem, Sekda NTT mendapat 2,0 persen.

Informasi yang dihimpun menyebutkan survey yang dirilis pada 30 Juli 2016 ini diduga dilakukan oleh PDIP untuk mengukur elektabilitas balon yang akan diusung PDIP di Pilgub NTT 2018.

Melihat hasil survey yang menempatkan Dira Tome pada posisi pertama sebagai Calon Gubernur NTT yang mendapatkan peresentase suara terbanyak, memang sudah sangat pantas atas apa yang telah dibuat oleh dirinya.

Dira Tome memang sosok pemimpin kebayakan di NTT, yang memiliki visi dan misi kepemimpinan yang inovatif. Tetapi melihat segudang prestasi yang diraih dalam mengubah Sabu Raijua, maka sangat mungkin ‘Sang Rajawali dari Negeri Para Dewa’ ini, menjadi sosok yang layak memimpin NTT. (Leonardo Jeffry Taolin)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here