Benarkah Etnis Sabu Raijua Dukung SAHABAT Dalam Pilkada Kota?

0
785
Loading...

Pilkada kota Kupang, Nusa Tenggara Timur tinggal sembilan hari lagi. Para pasangan calon melalui tim pemenangan dan relawan serta simpul gerakan melakukan berbagai manuver politik. Bahkan ada oknum yang secara terang- terangan mendukung pasangan calon tertentu dengan melegitimasi etnis masyarakat tertentu pula.

Namanya politik, setiap dukungan tentu ada rasionalisasi politiknya. Bukankah politik adalah permainan diksi semata?. Barang siapa mengemas isu lebih seksi, tentu akan bisa menguasi panggung. Namun sangat ironis ketika etnis, atau komponen masyarakat tertentu ‘didagangkan’ hanya untuk memuaskan ‘syahwat’ politik individu.

Sabtu, 4 Februari 2017 tentu masih terekam dalam memori kita, ketika etnis masyarakat Sabu Raijua secara terbuka menyatakan dukungan politik ke Paket Sahabat (Jonas salean – Niko Frans), yang dimotori oleh Nikodemus Rihi Heke, Pelaksana Tugas Bupati Sabu Raijua. Tidak ada yang salah dengan dukungan itu. Tapi kalau mau kita jujur dan analisa lebih jauh, akan muncul pertanyaan mendasar, “ Apa benar Masyarakat Sabu Raijua Tulus mendukung Paket sahabat”?.

Jawabannya sederhana. Mari coba kita melihat secara politis dukungan tersebut. Apa benar Nikodemus Rihi Heke mewakili seluruh masyarakat Sabu Raijua di Kota Kupang yang memiliki hak memilih yang sah? Tentu tidak. Sebab Nikodemus adalah sosok biasa saja, yang kebetulan memiliki tugas dan dipercayakan oleh rakyat dan konstitusi untuk memimpin Kabupaten Sabu Raijua.

Kalau tidak, tentu pertanyyan berikutnya, lantas mengapa Nikodemus Rihi Heke begitu getol dan semangat mendeklarasikan dukungan tersebut? Jawabannya sederhana pula. Nikodemus adalah Ketua Golkar Sabu Raijua. Tentu sebagai rasa solidaritas dan bertameng sama-sama berjuang, dirinya harus dan wajib mendukung pasangan calon Walikota Kupang yang diusung oleh Partai Golkar. Karena sudah menjadi sebuah keharusan secara politis, maka tentu lebih meyakinkan dirinya harus bisa melegitimasi dukungan tersebut dengan menyatakan diri sebagai sesepuh masyarakat Sabu Raijua.

Inilah politik. Yang hanya bertarung dalam strategi permainan diksi. Tentu ada harga yang harus dibayar Nikodemus Rihi Heke dengan dukungan tersebut. Kalau niatnya mendukung atas dasar tenggang rasa karena dirinya bersama Jonas Salean adalah sama sama Ketua Golkar tingkat kabupaten, Sangat Prematur. Tapi kita harus meyakini bahwa Nikodemus memiliki agenda tersembunyi dengan sikap politik tersebut. Agenda tersebut tentu diikuti juga dengan obsesi politik yang besar.

Sikap politik ini tidak bisa kita nafikan semata. Sebab kompetitor Paket Sahabat kali ini adalah FirmanMu (Jefri Riwu Kore – Herman Man). Kalau mau fair seharusnya dukungan berdasarkan etnis itu harusnya ke paket FirmanMu. Sebab secara emosional, masyarakat Sabu Raijua tentu merasa memiliki sosok putra sabu asli, yang lebih tulus memaknai arti dari “Cium Sabu” ketimbang sosok Jonas Salean.

Deklarasi tersebut memang ditanda tangani oleh belasan sesepuh masyarakat Sabu Raijua. Namun selain Nikodemus Rihi Heke, ada dua sosok sentral secara politis yang ikut bermain dalam deklarasi tersebut dengan bertamengkan masyarakat Sabu Raijua. Kedua sosok itu adalah Paulus Rebe Tuka, Ketua DPC PDI Perjuangan Sabu Raijua yang juga Ketua DPRD serta Herman Kaho politisi Partai Nasdem Sabu Raijua. Apa secara kebetulan ketiga orang ini mendukung Sahabat, atau memang ini merupakan sikap politik yang diinstruksikan oleh partai mereka bernaung, yang mana ketiga partai ini adalah pengusung Paket Sahabat. Tentu tidak sulit kita menebak strategi politik ini.

Lalu bagaimana seharusnya sikap Nikodemus Rihi Heke?

Kalau saya adalah sebagai Nikodemus Rihi Heke, tentu saya tidak akan ceroboh mengambil sikap politik ini. Saya lebih memilih untuk terus mengabdi dan bekerja di Sabu Raijua. Fokus kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat, peningkatan ekonomi, pembangunan infra struktur, pelayanan publik yang maksimal, serta terus bersama masyarakat Kabupaten Sabu Raijua, duduk bersama sambil berdiskusi mencari solusi terbaik bagi pembangunan di Tanah Para Dewa tersebut.

Kalau saya Nikodemus Rihi Heke, tentu saya saat ini bahkan pada akhir pekan kemarin akan tetap di Sabu, lalu berdiskusi dengan semua tokoh masyarakat yang ada untuk mengatasi kelangkaan BBM di Sabu Raijua. Ketimbang saya harus menantang badai yang ekstrim, serta tingginya gelombang laut  hanya untuk sampai ke Kupang lalu memberi dukungan politik ke Sahabat.

Bahkan kalau saya Nikodemus Rihi Heke, saya akan lebih memilih untuk menyerahkan sikap saling dukung mendukung itu kepada konstituen dalam hal ini masyarakat Kota Kupang. Bahkan saya akan bersikap Jujur dengan katakan bahwa saya orang Sabu, sangat tidak mungkin mendukung orang non Sabu. Inilah politik segala cara haram bahkan penghianatan sendiri berlaku dan halal dalam mencapai tujuan. Akan terasa beda ketika ‘Cium Sabu’ Nikodemus Rihi Heke dengan Jefri Riwu Kore ketmbang Nikodemus Rihi Heke dengan Jonas Salean.  

Oleh : Leonardo Jeffry Taolin   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here