Satu Jam Menjadi “Raja” Takpala

0
287

KALABAHI,fokusnusatenggara.com- Bagi anda yang pernah ke Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tentu kawasan perkampung adat tradisional Takpala bukan hal yang baru. Terletak di Kecamatan Alor Tengah Utara, Kampung Adat Takpala sering menjadi tujuan destinasi wisata bagi para pendatang.

TakpalaMasyarakat adat yang masih memegang tradisi leluhur, lokasi persis diatas bukit, serta arsitektur rumah yang masih jauh dari kesan moderen, menjadi kesan pertama keika kita sampai ke lokasi tersbut.

Rabu, 10 Agustus 2016, tentu menjadi hari yang sangat indah bagi puluhan jurnalis asal Kupang-NTT. Siang itu, para Jurnalis NTT yang usai meliput Expo Alor, berkesempatan mengunjungi Kampung Adat Takpala.

Setelah menempuh perjalanan darat menggunakan Bus selama 30 menit, rombongan harus berjalan kaki selama 30 menit lagi, dengan menyusuri rute berbukit menuju lokasi. Lelah tentu dirasakan. Tapi rasa itu sirna seketika ketika disambut begitu ramah oleh masyarakat adat setempat.

“ Saya mewakili seluruh 14 kepala keluarga yang ada di Takpala mengucapkan terima kasih atas kunjungan ini. inilah kami, masyarakat adat Takpala yang sederhana, tapi memiliki rasa cinta kasih yang luar biasa,” ungkap Abner Yetimau, Kepala Suku Takpala.

Sambutan yang ramah, tentu membuat saya langsung merasa dekat dengan mereka. Setelah berincang tentang keadaan suku ini selama 15 menit, sontak terbesit pemikiran dalam diri saya untuk mengenakan pakaian adat suku Takpala.

Permintaan saya ini langsung direspon oleh Abner. Saya lalu diajak masuk ke dalam rumah adat milik mereka, kemudian dipakaikan pakaian adat masyarakat Takpala, yang terdiri dari sarung besar, ikat kepala atau destar, ikat pinggang kulit sapi, perisai perang, tempat sirih, satu set anak panah beserta busur, dan kelewang atau pedang.

“ anak sangat cocok dan gagah kenakan pakaian ini,” begitu kesan pertama Abner Yetimau, ketika melihat penampilan saya menggunakan pakaian tersebut.

Setelah keluar dari rumah adat Takpala, saya kemudian berbaur dengan semua masyarakat Takpala. Bahkan beberapa rekan wartawan sempat abadikan momen tersebut dengan foto bersama, sambil memuji penampilan baru saya bagai seorang raja.

“ Teman kelihatan gagah dengan pakaian ini, tadi saya hampir salah kenal. Saya pikir teman adalah raja dan kepala suku Takpala,” ungkap Jos Dias, Pemimpin Redaksi mediantt.com

Inilah kondisi Masyarakat Adat Takpala. Demi mempertahankan kondisi dan peradaban mereka, masyarakat Adat Takpala harus menolak program pemerintah Kabupaten Alor, untuk memberikan fasilitas listrik gratis bagi mereka.

“ Kami tolak listrik bantuan dari pemerintah. Alasannya kami hanya mau mempertahankan cirri khas masyarakat kampung adat Takpala, bukan karena kami tidak mampu,” tutur Yetimau.

Penulis : Leonardo Jeffry Taolin

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here