FORKOMA PMKRI Minta Polda NTT Tindak Tegas Pelaku Penganiayaan Ketua PMKRI

0
180
Loading...

KUPANG,fokusnusatenggara.com- Dugaan pemukulan yang dilakukan oknum satlantas Polres Kupang Kota, terhadap Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang Adrianus Oswin Goleng yang berbuntut pelaporan ke Propam POLDA Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat reaksi keras dari Forum Komunikasi Alumni (FORKOMA) PMKRI NTT.

Forum Komunikasi Alumni (FORKOMA) PMKRI NTT melalui Sekretaris Umum, Kristofurus Efi mengatakan tindakan aparat yang arogan terhadap masyarakat sangat disesalkan apalagi kalau sudah menggunakan kekerasan.

Untuk itu secara organisasi Forkoma PMKRI NTT mengecam keras tindakan pemukulan terhadap Ketua PMKRI Cabang Kupang, Adrianus Oswin Goleng dan mendesak Polda NTT mengusut kasus ini secara tuntas.

“Kalau benar terjadi pemukulan maka ini tindakan aparat yang arogan terhadap masyarakat dan sangat disesalkan. Untuk itu secara organisasi Forkoma PMKRI NTT mengecam keras tindakan pemukulan terhadap Ketua PMKRI Cabang Kupang, Adrianus Oswin Goleng dan mendesak Polda NTT mengusut kasus ini secara tuntas,” kata Kristo Efi kepada media, Minggu (19/1/2020).

Kecaman yang sama juga disampaikan FORKOMA Manggarai Barat (Mabar). FORKOMA Mabar menilai tindakan kekerasan secara fisik ini sangat memalukan dan menunjukan ketidakmatangan emosional.

“Memalukan dan kecewa dengan tindakan kekerasan secara fisik dan verbal yang dilakukan oknum kepolisian resor kota Kupang terhadap ketua PMKRI Cab kupang Adrianus Oswin Goleng. Tindakan pemukulan dan intimidasi ini bentuk ketidakmapanan emosional oknum aparat kepolisian dalam melayani, melindungi dan mengayomi msyarakat. Dan tidak bisa dibiarkan perilaku oknum aparat kepolisian seperti ini, seharusnya hal semacam ini tidak boleh dipraktekan lagi,” kata Ketua FOKOMA Mabar, Dominikus jehadun.

FORKOMA Mabar mendukung penuh upaya hukum yang dilakukan Adrianus Oswin Goleng dengan melaporkan kejadian ini kepada PROPAM POLDA NTT. FORKOMA berharap, PROPAM POLDA NTT menindak tegas oknum kepolisian yang melakukan kekerasan terhadap masyarakat sipil. Hal ini penting demi mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum. Sehingga masyarakat mengetahui Institusi kepolisian tidak pernah melegalkan cara kekerasan, termasuk melindungi aparat kepolisian yang melakukan kekerasan dalam menegakan hukum.

Diberitakan sebelumnya, Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang Adrianus Oswin Goleng melaporkan Brigpol PA Cs Satlantas Polres Kupang Kota ke Propam POLDA Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan Nomor Laporan: STPL/3/I/Huk.12.10./2020/ Yanduan. Laporan ini terkait dugaan kasus pemukulan saat operasi tilang.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Indonesiakoran.com Minggu, (19/1/2020) dijelaskan, peristiwa pemukulan ini dilakukan di dalam kantor Satlantas Polres Kupang Kota.

Peristiwa tersebut berawal saat pelapor dan rekannya ditilang anggota Satlantas Polres Kupang Kota di depan Gereja Katedral Keuskupan Agung Kupang sekitar jam 11.00 WITA karena tidak mengenakan helm.

Berikut kronologi lengkap versi pelapor

Selesai misa, saya dan senior berinisial BP menuju ke kampung Solor, di depan Gereja Katedral, kami ditilang oleh Satlantas Polresta Kupang Kota. Sebagai warga negara yang baik dan taat hukum, saat ditahan saya tidak mengelak atau melawan.

Pada saat yang bersamaan, Oswin Goleng sempat meminta blanko tilang. Namun, kata oknum Polantas bahwa blanko tilang tidak ada. Oswin cs yang ditilang diarahakan untuk mengambil blanko di Kantor Satlantas Polresta. Motor Satria Fu itu akhirnya dibawa anggota Polantas ke kantor tersebut.

Setelah itu, pelapor cs bergegas ke Kantor Satlantas Polresta Kupang Kota untuk mengambil blanko tilang. Di Kantor Satlantas, Oswin menanyakan mekanisme atau SOP penilangan yang berlaku, bahwasannya, lokasi tilang tanpa papan informasi bahkan blanko tilang tidak diberikan malah diarahkan ke kantor Satlantas. Selain itu, lanjutnya, lokasi tilang sama sekali mengabaikan kepentingan umum. Karena, menurutnya, di sekitar lokasi rawan kecelakaan. Lokasi itu tepat di pertigaan jalan menurun dan berhadapan langsung dengan Gereja Katedral yang mana orang kristiani butuh ketenangan menjalankan aktivitas rohani.

Sebagai orang awam, niat saya mempertanyakan untuk memperoleh alasan dan informasi secara utuh dari pihak Satlantas agar tidak menimbulkan kecurigaan dan penilaian negatif. Namun hal ini diabaikan, malah saya dipukul, diintimidasi dan diusir. Mendengar perkataan itu, Oswin dan beberapa saksi yang juga hendak mengambil blanko, Brigpol PA menanggapi secara arogan dengan bahasa yang tidak etis. “Kau datang hanya bikin ribut saja goblok”.

Tidak menerima perkataan itu, korban pun membalas ujarannya. “Pak, mohon lebih etis dalam berbahasa, sebetulnya kamu yang goblok”. Tidak menerima dengan perkataan Adrianus Oswin Goleng, PA Cs (kurang lebih 7-8 orang) bereaksi dengan melakukan kekerasan secara fisik dan verbal memukul, intimidasi dan mengusir korban keluar dari kantor secara tidak manusiawi.

Tidak menerima perlakuan ini, korban dan saksi langsung melapor kejadian tersebut di PROPAM POLDA NTT. Setelah membuat laporan, korban langsung diarahkan ke RS Bhayangkara untuk divisum. Adapun, terdapat beberapa luka memar di sekitar leher, dada, dan perut korban.

Kabid Humas Polda NTT AKBP Johannes Bangun yang dikonfirmasi Indonesiakoran.com mengaku masih melakukan pengecekan atas informasi laporan dari Ketua PMKRI Cabang Kupang ke Propam Polda NTT. “Dicek dulu,” kata Kabid Humas Polda NTT melalui pesan WhatsApp, Minggu, (19/1/2020). (***)


Reporter: Usif


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here