Kemandirian Sabu Ditangan Dira Tome

0 60

MENIA,fokusnusatenggara.com- Kendati baru 8 tahun menjadi kabupaten sendiri, Sabu Raijua yang dulu menjadi bagian dari Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), telah membuktikan diri sebagai daerah baru yang mempu mengolah potesi daerah dengan maksimal. Bahkan untuk daerah ukuran kecil, Sabu mampu bersaing dengan daerah lain di NTT, dalam hal menciptakan kemandirian bagi masyarakatnya.

gubernur-resmikan-pabrik1Hal ini tentu tidak terlepas dari kemampuan Marthen Dira Tome, Bupati Sabu Raijua, dalam melihat potensi alam yang bisa dikembangkan, guna mendatangkan nilai ekonomis bagi masyarakat setempat. Setelah garam Nataga yang sudah merambah pasar nasional, kini rumput laut menjadi sektor yang akan dikembangkan pemerintah setempat, menyusul Pabrik Air Mineral.

Bahkan dari 22 kabupaten dan kota di NTT, Sabu Raijua adalah daerah yang memiliki pabrik rumput laut sekarang ini, ketika daerah lain masih berkutat dengan sentra pengelolaan dan industri rumahan. Sabtu, 13 Agustus 2016, Gubernur NTT, Frans Leburaya, meresmikan Pabrik Pengolahan Rumput Laut di Kelurahan Limaggu, Kecamatan Sabu Timur. Selain itu, Gubernur juga menyempatkan diri untuk panen Garam di Desa Bodae Kecamatan Sabu Timur dan melihat Pabrik Air dalam kemasan di Kelurahan Limaggu.

Dalam sambutannya usai meresmikan pabrik, Frans Lebu Raya mengatakan, bahwa apa yang dikerjakan oleh Pemerintah di Kabupaten Sabu Raijua telah melampau target dari estimasi yang dipikirkan dirinya. Untuk itu pembangunan yang dilakukan saat ini wajib didukung oleh semua pihak demi tercapainya kemajuan bersama.

“Sabu Raijua telah menunjukkan diri bisa dan mampu melakukan berbagai inovasi dan terobosan-terobosan baru yang kadang sering dianggap sebelah mata oleh orang lain. Saya selalu tekankan pada para kadis supaya jangan takut untuk melakukan terobosan -terobosan sehingga bisa menciptakan peluang baru,” kata Lebu Raya.

Dia juga berpesan agar Bupati Marthen Dira Tome bisa membuat badan usaha berbentuk Perseroan terbatas (PT), yang akan mengelola tiga pabrik (Rumput Laut, Garam dan Air Meneral) yang ada saat ini. Dengan demikian maka pemerintah bisa bagi hasil,  dan dari hasil tersebut digunakan untuk membangun Sabu Raijua. Melihat potensi dan hasil yang telah dicapai maka pembangunan Sabu Raijua akan lebih maju dari kabupaten lain di NTT.

Gubernur juga sempat menyentil bahwa dia tdak pernah turun ke Sabu bukan karena ada persoalan, hanya saja Bupati belum mengundang untuk melihat apa yang sudah dibuat di Sabu Raijua. 

“Saya tunggu undangan dari bupati dan ternyata dia mengundang saya untuk melihat sebuah kesuksesan besar. Saya harus jujur mengakui bahwa ada perubahan yang luar biasa di Sabu Raijua,” ungkap Lebu Raya.

Sementara itu Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome mengatakan, dalam mebangun Sabu Raijua, ada banyak keraguan yang terlontar apakah mampu menjadi sebuah daerah otonom yang memiliki martabat. Banyak yang menilai bahwa pembangunan di Sabu Raijua karena ketidakharmonisan Bupati dengan Gubernur.

“Membangun Sabu Raijua bukan seperti Ku Faya Kun, Jadi Maka Jadilah. Bukan Demikian.  Kehadiran bapak Gubernur disini tidak hanya untuk sekedar meresmikan pabrik, tapi ada hikmah lain yakni menepis anggapan bahwa kami tidak rukun dengan pak Gubernur,” kata Dira Tome disambut tepuk tangan masyarakat.

Dia mengatakan, kehadiran pabrik pengolahan rumput laut di Sabu Raijua sebagai upaya pemerintah, mendorong para petani rumput laut untuk bekerja lebih giat dan juga menghindarkan mereka dari perilaku tengkulak. Selain itu juga menjadi lapangan kerja bagi banyak pencari kerja di Sabu Raijua.

“ Bagaimana mungkin kita hanya menjual rumput laut dengan harga yang murah jika tidak diolah. Dengan demikian maka kami membangun pabrik pengolahan rumput laut sehingga dengan hasil olahan tersebut bisa dijual dengan harga tinggi,” tutup Dira Tome. ( *seputar-ntt.com/fatur)

Comments
Loading...