Expor NTT Ibarat Kerbau Punya Susu Sapi Punya Nama

0
84
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTT, Muhamad Nazir Abdulah
Loading...

Expor NTT Ibarat Kerbau Punya Susu Sapi Punya Nama.
Kupang, fokusnusatenggara.com / 7 Januari 2020
Expor produk NTT sejauh ini belum berarti. Hanya sedikit, antaranya ke Timor Leste, Argentina, Korea Selatan, Jepang dan India. Itupun tidak sebanding dengan produk –produk NTT seperti hasil bumi, kopi jambu mete,rumput laut dan ikan tuna.
“ Secara defakto seperti itu. Ibarat Kerbau punya Susu Sapi punya Nama. Karena produk NTT kebanyakan oleh padagang diantarpulaukan ke Surabaya, Denpasar dan Makasar. Jadi jawa Timur, Bali dan Sulawesi selatan yang export atas nama daerah mereka ,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTT Muhamad Nazir Abdulah ( 6/1).
Salah satu kendala yang menghambat expor dari NTT jelas Muhamad Nazir Abdulah, karena di NTT karena belum ada Lembaga Pengujian Standar Mutu Barang.
“ Untuk export itu harus ada lembaga ini. Provinsi NTT belum memiliki. Karena itu pengusaha NTT lebih banyak memilih mengantarpulaukan produk yang mereka beli ke Surabaya, Denpasar dan Makasar dan diexpor dari sana ,” Jelas Muhamad Nazir Abdulah yang didampingi stafnya Kabid Pengembangan Perdagangan Kirenius Talo.
Selain karena belum ada lembaga pengujian standar mutu barang, juga produk export asal NTT secara kwantitas belum memenuhi kebutuhan kuota untuk export.
“ Seperti jambu mente untuk sekali export dari NTT tidak mencukupi kuota. Harus dikumpulkan selama dua tahun dulu baru mencukupi untuk export. Sementara secara kualitas produk NTT lebih baik dibanding dari Provinsi lain ,” sebut Muhamad Nazir Abdulah.
Disatu sisi kondisi seperti ini lanjut Muhamad Nazir Abdulah tentunya pengusaha tidak bisa menunggu, mengumpulkan hasil sampai dua tahun baru diexpor. Karena mereka sudah memiliki jaringan dengan pedagang di Surabaya, Denpasar dan Makasar.
“ Jadi berapa ton yang yang mereka dapat langsung antarpulaukan ke Surabaya, Denpasar dan Makasar. Para pengusaha disana menggabungkan produk NTT dengan yang mereka miliki dan langsung export ,” ujarnya.
Upaya untuk bisa membuat export langsung dari NTT kata Muhamad Nazir Abdulah salah satunya dengan cara mendirikan UPT lembaga pengujian standar mutu barang di Kupang.
“ Untuk memotong mata rantai ini kami berupaya akan mendirikan UPT lembaga pengujian standar mutu barang di NTT. Kami sementara mengupayakan dengan instansi terkait. Target kami tahun 2021 mendatang lembaga ini sudah beroperasi. Tahun ini kami mempersiapan tenaga dan peralatan untuk lembaga ini ,ujar Muhamad Nazir Abdulah.
Menurutnya, setelah adanya lembaga ini akan diupayakan kerja sama, MOU dengan pihak Pelindo agar semua produk export NTT dikirim dari NTT. Jurus ini tentunya akan sangat membantu para petani NTT, minimal secara bertahap akan mengeluarkan NTT sebgai Provinsi termiskin ketiga di Indonesia.
“ Setelah tahun depan lembaga ini ada, kami akan MOU dengan pihak Pelindo Untuk mengangkut semua produk export dari Palabuhan yang ada di NTT. Karena jarak angkutnya dekat ke Pelabuhan tentunya para pengusaha tidak akan seenaknya mainkan harga lagi ,” jelas Muhamad Nazir Abdulah.
Berapa kali export dari NTT jelasnya karena ada upaya beberapa pengusaha yang mendatangkan tim penguji standar mutu barang standar barang dari Surabaya. Ini versi para pengusaha, memakan waktu karena harus menyesuaikan dengan waktu para pegawai lembaga ini.
“ Expornya juga masih sedikit. Seperti ikan tuna ke Timor Leste, Korea Selatan, Jepang dan India. Sementara rumput laut diexpor ke Argentina dan baru sekali dikirim tahun 2019 lalu sebanyak 25 ton ,” katanya.
Selain ikan tuna, export ke Timor Leste juga tidak seberapa besar. Beberapa produk yang diexpor itu juga berasal dari Jawa seperti susu, mentega dan telur. “ Para pengusaha NTT membeli dari Jawa kemudian diexpor ke Timor Leste. Kebalikan Pengusaha Surabaya, Denpasar dan Makasar membeli produk NTT dan export ,” kata Muhamad Nazir Abdulah.
Seperti diberitakan sebelumnya untuk bulan November 2019 senilai US $1.621.283 dengan volume sebesar 6.129,3 ton. Jumlah itu mengalami peningkatan sebesar 2,78 persen dibanding bulan Oktober 2019 yang sebesar US $1.577.406.
“Nilai ekspor tersebut terdiri dari ekspor migas sebesar US $ 151.548 dan ekspor non migas senilai US $1.469.735. Data ini sesuai yang kami dapat dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT ,” kata Kepala BPS NTT Darwis Sitorus, pada jumpa pers bulanan di kantornya ( 2/1).
Komoditas ekspor Provinsi NTT bulan November 2019 lanjut Darwis Sitorus, seluruhnya dikirim ke negara tetangga Timor Leste sebesar US $1.621.283.
“Komoditas terbesar yang diekspor Provinsi NTT pada bulan November 2019 adalah kelompok komoditas Susu, Mentega, dan Telur (04) senilai US $245.502 ,” jelas Darwis Sitorus.
Sementara itu, impor Provinsi Nusa Tenggara Timur pada November 2019 senilai US $9.007.713 dengan volume sebesar 15.141 ton. Komoditas impor terbesar adalah Bahan Bakar Mineral (27) yang didatangkan dari Singapura.
“Jika membandingkan kumulatif nilai ekspor sebesar US $14.356.109 terhadap kumulatif nilai impor sebesar US $ 67.206.409 maka pada tahun 2019 terdapat defisit sebesar US $ 52.850.300 ,” ujar Darwis Sitorus. ( Usif).


Reporter: Usif


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here